Kanal24, Malang — Seberapa jauh generasi muda mengenal wilayah tempat mereka tinggal? Pertanyaan tersebut menjadi penting ketika pembelajaran geografi masih kerap berhenti pada hafalan nama daerah, sementara kemampuan memahami bentuk, posisi, dan karakter suatu wilayah dibutuhkan untuk membaca persoalan pembangunan di masa depan.
Jawa Timur sendiri memiliki 38 kabupaten/kota, menjadikannya provinsi dengan jumlah wilayah administratif terbanyak di Indonesia. Namun, mengenal nama-nama wilayah saja belum cukup untuk membangun pemahaman spasial.
Persoalan tersebut menjadi perhatian Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya. Tim memperkenalkan “Sepiro Jawa Timur, Sampeyan”, platform pembelajaran berbasis web yang mengajak generasi Z mengenali Jawa Timur melalui permainan dan teknologi digital.

Kegiatan bertajuk Penguatan Literasi Geospasial Jawa Timur bagi Gen Z Melalui Edukasi Berbasis Gamifikasi Menggunakan Platform “Sepiro Jawa Timur, Sampeyan” tersebut berlangsung di SMA Negeri 3 Malang, Selasa (18/8/2026).
Program merupakan bagian dari PkM Laboratorium Environmental, Infrastructure, and Information System (EIIS) Departemen PWK Fakultas Teknik UB. Tim diketuai Adipandang Yudono, S.Si., MURP., PhD, bersama Fauzul Rizal Sutikno, S.T., M.T., Ph.D dan Mustika Anggraeni, S.T., M.Si., PhD. Kegiatan juga didukung satu asisten laboratorium dan lima mahasiswa S1 PWK UB sebagai fasilitator lapangan.
Adipandang menjelaskan, literasi geospasial penting dikenalkan kepada generasi muda karena mereka akan menjadi bagian dari masyarakat yang ikut menentukan arah pembangunan Jawa Timur dalam satu hingga dua dekade mendatang.

“Selama ini pembelajaran geografi di sekolah cenderung berhenti pada hafalan nama wilayah, tanpa benar-benar membangun kemampuan berpikir spasial siswa. Padahal Generasi Z adalah calon pembangun Jawa Timur satu-dua dekade ke depan, sehingga penting bagi mereka untuk benar-benar mengenal wilayahnya,” ujar Adipandang di sela kegiatan.
Platform Sepiro Jawa Timur, Sampeyan mengambil nama dari frasa Bahasa Jawa sepiro, yang berarti seberapa atau sejauh mana. Nama tersebut sekaligus menjadi pertanyaan bagi pengguna: sejauh mana mereka mengenal Jawa Timur?
Alih-alih meminta siswa menghafalkan 38 kabupaten/kota, platform ini mengubah proses belajar menjadi permainan. Pengguna dapat mengaksesnya secara gratis melalui peramban di laptop maupun tablet tanpa perlu memasang aplikasi.
Platform tersebut memiliki sedikitnya delapan fitur utama. Pengguna dapat melihat informasi wilayah melalui peta interaktif, memainkan kuis tebak bentuk kabupaten/kota, menyusun 38 kabupaten/kota Jawa Timur melalui permainan drag-and-drop, hingga mengeksplorasi visualisasi 3D Gunung Bromo dan Balai Kota Malang.
Selain itu, tersedia papan skor secara real-time, statistik waktu bermain, serta pengaturan tingkat kesulitan dan musik latar.

Dalam kegiatan di SMAN 3 Malang, siswa mengikuti workshop dalam tiga tahapan. Kegiatan diawali dengan pengantar literasi geospasial dan pre-test, dilanjutkan eksplorasi platform secara terpandu, kemudian kompetisi kelompok menyusun peta Jawa Timur yang dipandu mahasiswa PWK UB.
“Kami ingin siswa tidak sekadar menghafal, tapi benar-benar mengalami dan merasakan bentuk wilayahnya sendiri lewat permainan. Dengan cara ini, belajar geografi jadi jauh lebih menyenangkan dan mudah diingat,” kata Adipandang.
Program tidak berhenti pada siswa. Tim juga memberikan pelatihan kepada guru IPS/Geografi agar platform dapat diintegrasikan ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Pendampingan implementasi di kelas juga direncanakan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan.
Ke depan, platform ini direncanakan diperluas ke kabupaten/kota lain di Jawa Timur. Tim juga membuka peluang pengembangan fitur kuis adaptif berbasis kecerdasan buatan serta penjajakan integrasi dengan kurikulum muatan lokal Jawa Timur.
Bagi Universitas Brawijaya, kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengabdian yang menghubungkan teknologi, pendidikan, dan kebutuhan masyarakat. Penguatan literasi geospasial melalui platform digital juga sejalan dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas, terutama dalam mendorong pembelajaran yang relevan dan keterampilan peserta didik. Pengembangan platform berbasis teknologi sekaligus mendukung SDG 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur melalui pemanfaatan inovasi digital dalam pendidikan.(Din)














