Kanal24, Malang – Di balik krisis air global yang semakin mengkhawatirkan, UNESCO menyoroti persoalan lain yang selama ini kerap luput dari perhatian: ketimpangan gender dalam pengelolaan sumber daya air. Perempuan disebut menjadi kelompok yang paling dekat dengan urusan air dalam kehidupan sehari-hari, namun justru masih minim dilibatkan dalam pengambilan keputusan di level strategis.
Isu tersebut mengemuka dalam rangkaian World Water Week 2026 dan Guest Lecture bertajuk Water for All People: Science, Policy, and Inclusive Action di Universitas Brawijaya (UB), Senin (11/5/2026). Kegiatan ini menghadirkan perwakilan UNESCO Regional Office Jakarta, Dr. Engin Koncagul, yang menyoroti pentingnya kesetaraan gender dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan sektor air.
Menurut Engin, persoalan tersebut menjadi perhatian utama dalam United Nations World Water Development Report 2026 yang tahun ini mengangkat fokus tentang gender dan pengelolaan air.
“Setengah populasi dunia adalah perempuan. Tetapi ketika berbicara tentang pengelolaan sumber daya air dan pengambilan keputusan di level tinggi, kita masih melihat ketimpangan gender yang besar,” ujarnya.
Ia menjelaskan, data global menunjukkan hanya sekitar 25 persen tenaga kerja di sektor air berasal dari perempuan. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, perempuan justru menjadi pihak yang paling sering terlibat dalam pengelolaan air di tingkat rumah tangga.
“Perempuan bertanggung jawab mengambil air, mengelola air di rumah tangga, tetapi ketika masuk pada pengambilan keputusan, suara mereka sering tidak terdengar,” katanya.
Menurut Engin, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan air tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur dan lingkungan, tetapi juga menyangkut keadilan sosial dan partisipasi kelompok rentan dalam pembangunan.
Krisis Air dan Ketimpangan Gender
UNESCO menilai ketimpangan partisipasi perempuan di sektor air dapat berdampak langsung terhadap keberhasilan pembangunan berkelanjutan dunia. Engin menegaskan bahwa target pembangunan berkelanjutan atau SDGs akan sulit tercapai apabila kesetaraan gender masih diabaikan dalam tata kelola sumber daya air.
“Selama tidak ada kesetaraan gender dalam partisipasi, pengelolaan, dan investasi di sektor air, maka pembangunan berkelanjutan mungkin tidak akan pernah menjadi kenyataan,” tegasnya.
Ia menilai perempuan sebenarnya memiliki pengalaman dan perspektif penting dalam pengelolaan air karena mereka berhadapan langsung dengan kebutuhan air sehari-hari. Karena itu, keterlibatan perempuan dalam kebijakan dinilai perlu diperkuat.
Di banyak negara berkembang, persoalan akses air bersih juga masih berkaitan erat dengan beban sosial perempuan dan anak perempuan. Mereka menjadi kelompok yang paling terdampak ketika akses air sulit dijangkau atau kualitas lingkungan menurun.
Indonesia Dinilai Jadi Role Model
Meski demikian, UNESCO melihat Indonesia memiliki perkembangan positif dalam pelibatan perempuan dan generasi muda di sektor pengelolaan sumber daya air.
Menurut Engin, Indonesia menjadi salah satu negara yang dinilai cukup aktif mendorong keterlibatan perempuan, anak muda, serta institusi pendidikan dalam isu keberlanjutan lingkungan dan pengelolaan air.
“Indonesia adalah salah satu role model dalam pengelolaan sumber daya air, keterlibatan perempuan dan anak muda dalam pengambilan keputusan,” ujarnya.
Kolaborasi UNESCO bersama Universitas Brawijaya dan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO tahun ini disebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kondisi tersebut melalui pendidikan, riset, dan penguatan kesadaran lingkungan.
UNESCO juga mengapresiasi langkah UB yang mengambil inisiatif menerjemahkan laporan global World Water Development Report 2026 ke dalam Bahasa Indonesia. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperluas pemahaman publik terhadap isu keberlanjutan air dan kesetaraan gender.
Bagi UNESCO, persoalan air di masa depan tidak lagi cukup diselesaikan melalui pendekatan teknis semata. Dibutuhkan keterlibatan sosial yang lebih inklusif agar kebijakan lingkungan benar-benar mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara luas.(Din)














