Kanal24, Malang – Di tengah meningkatnya tekanan akademik, tuntutan sosial, hingga persoalan personal yang dialami mahasiswa, Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (FH UB) mulai memperkuat sistem dukungan kesehatan mental di lingkungan kampus. Melalui Workshop Agen Sehat Mental Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Tahun 2026, kampus berupaya membentuk agen-agen penggerak yang mampu membangun ruang akademik lebih aman, suportif, dan peduli terhadap kondisi psikologis sivitas akademika.
Workshop yang digelar di Auditorium Lt.6 Gedung A FH UB pada Kamis (21/5/2026) tersebut melibatkan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, hingga Dharma Wanita Persatuan. Program ini menjadi bagian dari pengembangan Kampus Sehat Mental yang masuk dalam prioritas Universitas Brawijaya untuk memperkuat kualitas lingkungan belajar secara menyeluruh.
Baca juga:
28 Tahun Reformasi, FH UB Ajak Gen-Z Membaca Ulang Arah Demokrasi
Dekan Fakultas Hukum UB, Dr. Aan Eko Widiarto, S.H., M.Hum., menjelaskan bahwa kesehatan mental memiliki pengaruh besar terhadap capaian akademik, produktivitas kerja, hingga kualitas interaksi sosial di kampus. Menurutnya, persoalan mental health bukan lagi isu kecil yang dapat diabaikan, karena sudah menjadi tantangan nyata di berbagai perguruan tinggi.

“Eksistensi agen mental health ini menjadi sangat penting sebagai upaya prevention sekaligus kuratif ketika ada sivitas akademika yang mengalami gangguan kesehatan mental,” ujar Aan.
Ia menambahkan, agen kesehatan mental nantinya tidak hanya berfungsi sebagai pendamping awal, tetapi juga menjadi penggerak budaya kampus yang lebih sehat secara emosional. Para peserta workshop diharapkan mampu menyebarkan edukasi kesehatan mental kepada lingkungan sekitar serta membantu mahasiswa yang membutuhkan ruang aman untuk bercerita dan mendapatkan dukungan.

Wakil Ketua Panitia Workshop sekaligus PIC Kampus Sehat Mental FH UB 2026, Dr. Herlindah, S.H., M.Kn., mengatakan workshop tersebut lahir dari meningkatnya kesadaran kampus terhadap maraknya kasus kesehatan mental di Indonesia, termasuk di lingkungan pendidikan tinggi. Karena itu, FH UB mulai membangun komunitas sehat mental yang melibatkan seluruh unsur kampus.
“Mahasiswa, dosen, tendik, sampai Dharma Wanita dilibatkan karena semuanya saling terhubung dalam proses pencegahan maupun penanganan masalah kesehatan mental,” jelas Herlindah.
Sebanyak 50 peserta mengikuti pelatihan ini. Mereka dibekali pemahaman dasar kesehatan mental, teknik komunikasi suportif, hingga strategi membangun kesadaran di lingkungan organisasi maupun kelas. FH UB juga menyiapkan pelatihan lanjutan agar kemampuan agen kesehatan mental semakin berkembang dan mampu memberikan dampak lebih luas.
Melalui program tersebut, FH UB ingin menegaskan bahwa kampus tidak hanya menjadi tempat mengejar prestasi akademik, tetapi juga ruang aman yang mendukung kesehatan mental mahasiswa agar tetap sehat, produktif, dan mampu berkembang secara optimal selama menjalani kehidupan perkuliahan. (cay)














