Kanal24, Malang – Kanal24, Malang – Aktivitas kampus yang dipenuhi perangkat elektronik dan sistem kelistrikan menyimpan risiko yang sering kali luput dari perhatian. Korsleting kecil, kabel yang tidak layak, hingga kelalaian penggunaan peralatan dapat memicu kebakaran yang berdampak besar jika tidak ditangani sejak dini. Karena itu, kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat mulai menjadi kebutuhan penting di lingkungan perguruan tinggi.
Kesadaran tersebut yang terus diperkuat Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) melalui Pelatihan Tanggap Darurat Kebakaran Ringan dan Penggunaan APAR K3L FILKOM UB Tahun 2026 yang digelar di Mini Teater Heuristic Gedung A Lantai 2 FILKOM UB, Selasa (26/5/2026). Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya membangun budaya sadar risiko dan kesiapsiagaan darurat di lingkungan kampus, sekaligus memperkuat kemampuan civitas akademika dalam melakukan penanganan awal ketika terjadi kebakaran.
Baca Juga :
Ratusan Mahasiswa UB Ikut Pelatihan K3L, Belajar Evakuasi hingga Penanganan Darurat
Potensi Kebakaran dari Aktivitas Kelistrikan Kampus
Dekan FILKOM UB, Ir. Tri Astoto Kurniawan menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan agenda rutin yang sangat penting mengingat aktivitas di FILKOM sangat erat dengan perangkat komputer dan sistem kelistrikan.

“Ini penting karena aktivitas di Filkom itu banyak berhubungan dengan komputer dan sangat berkaitan dengan kelistrikan. Ketika kelistrikan kita tidak proper, maka akan menimbulkan potensi kebakaran dan itu harus bisa dideteksi sejak dini,” ujarnya.
Ia juga menyoroti penggunaan material bangunan yang mudah terbakar sehingga meningkatkan risiko penyebaran api jika terjadi insiden kecil. Karena itu, menurutnya, diperlukan perubahan pola pikir civitas akademika agar lebih mengutamakan pencegahan.
K3L FILKOM Tekankan Budaya Sadar Risiko dan Simulasi Nyata
Ketua K3L FILKOM UB, Rakhmadhany Primananda menegaskan bahwa pelatihan ini tidak hanya bersifat formalitas, tetapi bagian dari strategi membangun budaya sadar risiko di lingkungan kampus.
Ia menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar K3L adalah masih adanya perbedaan tingkat pemahaman civitas akademika terkait potensi bahaya di lingkungan kerja. Karena itu, K3L secara aktif membangun sistem edukasi berlapis mulai dari sosialisasi, kebijakan, hingga praktik langsung.

“Kalau sebelum adanya pelatihan ini, bisa saja ada beberapa orang yang sudah paham, tapi mungkin banyak orang juga di lingkungan Filkom itu yang masih belum paham,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa upaya K3L tidak berhenti pada pelatihan teori saja. FILKOM juga mulai memperkuat infrastruktur keselamatan seperti rambu K3 di berbagai titik fakultas, serta memasukkan edukasi keselamatan dalam berbagai forum internal.
“Artinya kita mulai membangun atau membentuk rambu-rambu K3 di sekeliling lingkungan fakultas. Kemudian kita juga melakukan sosialisasi melalui kebijakan dekan, dan di coffee morning juga kita sampaikan ke civitas,” jelasnya.
Menurutnya, keberlanjutan edukasi menjadi kunci agar pengetahuan tidak berhenti setelah pelatihan, melainkan menjadi kebiasaan kolektif di lingkungan kampus.
“Harapannya para stakeholder ini sudah tahu apa yang harus dilakukan ketika ada kondisi yang darurat,” tambahnya.
Damkar: Kebakaran Berawal dari Hal Kecil
Petugas Damkar Kota Malang, Galih Joko mengingatkan bahwa sebagian besar kebakaran berawal dari kelalaian kecil yang sering tidak disadari.
“Semua berawal dari hal yang kecil ya, termasuk kebakaran itu berawal dari hal-hal kecil,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kesalahan umum masyarakat dalam penanganan awal kebakaran, terutama pada kasus kebakaran dapur yang justru sering diperparah dengan tindakan yang kurang tepat.
“Itu biasanya kalau panik disiram pakai air, itu justru bahaya karena malah membuat apinya semakin menyebar,” jelasnya.
Galih menekankan pentingnya menyelamatkan diri terlebih dahulu, sebelum kemudian meminta bantuan dan menghubungi pemadam kebakaran dalam kondisi darurat.
“Jadi api besar atau kecil kita harus telepon Damkar, enggak apa-apa karena pelayanan kita gratis dan 24 jam,” pungkasnya. (ger)














