Kanal24, Malang – Permintaan durian premium di pasar internasional terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun di tengah besarnya peluang tersebut, Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan mendasar, mulai dari kualitas bibit yang belum seragam, produktivitas tanaman yang beragam, hingga konsistensi mutu buah yang menjadi syarat utama untuk bersaing di pasar global.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Kelompok Kajian Durian (KKD) Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya (FBiPK UB) memperkuat langkah kolaborasi dengan Asosiasi Kebun Durian Indonesia (AKDI) melalui kunjungan lapangan ke sejumlah sentra durian unggulan di Jawa Barat. Kegiatan yang berlangsung pada 22–25 Mei 2026 itu menjadi bagian dari upaya mempercepat hilirisasi riset, memperkuat kerja sama Tri Dharma Perguruan Tinggi, sekaligus merumuskan strategi pengembangan durian unggul Indonesia yang mampu bersaing di pasar internasional.
Baca juga : Wujudkan Durian Komoditas Primadona Nasional, FP UB Luncurkan Kelompok Kajian Durian Nusantara
Tim KKD FP UB yang terlibat dalam kunjungan tersebut terdiri atas Prof. Dr. Ir. Didik Hariyono, SU., Adi Setiawan, S.P., M.P., Ph.D., Arif Delviawan, S.Hut., M.Agr., Ph.D., Andi Kurniawan, S.P., M.P., Ph.D., Dr. Nur Azizah, S.P., M.P., dan Dr. Yulia Amirul Fata, S.T., M.Si. Mereka melakukan observasi langsung di RB Farm Subang serta Vigano Farm dan Gadog Farm Bogor yang dikenal sebagai sentra budidaya durian unggulan.
Di lapangan, tim menemukan bahwa kualitas durian sangat dipengaruhi kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Meski masing-masing kebun memiliki karakteristik berbeda, terdapat sejumlah persoalan yang relatif sama, yakni kualitas bibit, manajemen pembungaan, serta konsistensi mutu buah yang dihasilkan. Varietas yang banyak dibudidayakan di lokasi tersebut antara lain Bawor, Musang King, dan Black Thorn.

Ketua Kelompok Kajian Durian, Prof. Dr. Ir. Didik Hariyono, SU., menegaskan bahwa pengembangan komoditas durian tidak dapat dilakukan secara parsial. Dibutuhkan sinergi antara perguruan tinggi, peneliti, pelaku usaha, petani, hingga pemerintah agar inovasi yang dihasilkan mampu menjawab kebutuhan industri sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Menurutnya, kolaborasi semacam ini menjadi jembatan penting antara hasil riset di kampus dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Kunjungan tersebut juga menjadi ruang diskusi untuk mengidentifikasi tantangan pengembangan durian nasional, mulai dari teknik budidaya, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, hingga strategi peningkatan kualitas buah. Berbagai temuan lapangan nantinya akan dirumuskan menjadi rekomendasi teknis yang dapat mendukung pengembangan sektor hortikultura nasional.
Menyiapkan Brand Durian Nusantara
Salah satu hasil penting dari rangkaian kegiatan tersebut adalah menguatnya komitmen AKDI dalam mendukung pengembangan sentra kebun bibit durian di lingkungan FBiPK UB. Gagasan tersebut diharapkan menjadi fondasi lahirnya varietas durian unggul Nusantara yang memiliki identitas kuat dan mampu menjadi brand baru Indonesia di pasar global.
Ketua AKDI, Irjen Pol. (Purn.) Condro Kirono, menilai penerapan Good Agricultural Practices (GAP) menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing durian Indonesia. Standarisasi budidaya dinilai menjadi kunci agar kualitas buah yang dihasilkan lebih konsisten dan memenuhi kebutuhan pasar ekspor.
Bagi Universitas Brawijaya, pengembangan durian tidak semata berbicara tentang komoditas pertanian. Di baliknya terdapat peluang besar untuk membangun ekosistem inovasi yang menghubungkan riset, pendidikan, industri, dan pemberdayaan masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, hasil penelitian kampus dapat diterjemahkan menjadi solusi nyata yang berdampak langsung pada sektor pertanian dan ekonomi daerah.
Kolaborasi antara KKD, AKDI, BRIN, perguruan tinggi, dan para pekebun menjadi contoh bagaimana pengembangan pertanian modern membutuhkan kerja bersama lintas sektor. Ketika riset bertemu kebutuhan industri dan pengalaman petani di lapangan, peluang lahirnya produk unggulan nasional akan semakin terbuka.
Di tengah meningkatnya persaingan pasar hortikultura global, langkah yang dilakukan UB bersama para mitranya menjadi investasi jangka panjang untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen durian unggulan dunia. Dari kebun-kebun di Jawa Barat, harapan itu kini mulai disusun: menghadirkan durian Nusantara yang tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga mampu menjadi kebanggaan Indonesia di pasar internasional. (Din)














