Kanal24, Malang – Di tengah persaingan ketat dunia digital, jumlah pengikut di media sosial kini menjadi salah satu indikator penting untuk membangun citra, pengaruh, hingga peluang bisnis. Tidak sedikit akun yang berlomba meningkatkan jumlah followers demi terlihat populer, dipercaya publik, dan menarik perhatian brand. Fenomena inilah yang kemudian melahirkan praktik “fictive followers” atau pengikut palsu yang menjadi ladang cuan baru di era ekonomi digital.
Praktik fictive followers dilakukan dengan cara memberikan likes, mengikuti akun tertentu, menonton video, hingga meninggalkan komentar demi meningkatkan interaksi akun media sosial. Para pelaku biasanya direkrut melalui grup percakapan atau pesan instan dengan imbalan uang per tugas. Hanya bermodalkan smartphone dan koneksi internet, seseorang bisa memperoleh penghasilan tambahan setiap hari dari aktivitas sederhana tersebut.
Baca juga:
Komunitas Eithereyou Perkuat Networking Generasi Z
Followers Jadi Simbol Pengaruh di Era Digital
Di era media sosial, jumlah pengikut bukan lagi sekadar angka. Followers dianggap sebagai representasi pengaruh dan popularitas seseorang di platform digital. Akun dengan jumlah pengikut besar lebih mudah mendapatkan kerja sama promosi, endorsement, hingga iklan dari berbagai brand.
Fenomena ini mendorong munculnya industri jasa penambah followers yang menawarkan peningkatan pengikut secara instan. Tidak hanya followers, layanan tersebut juga menyediakan tambahan likes, viewers, subscriber, hingga komentar demi meningkatkan engagement akun tertentu.
Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa praktik pembelian followers sudah menjadi fenomena global. Banyak akun media sosial menggunakan pengikut palsu untuk meningkatkan citra popularitas secara cepat demi menarik perhatian publik maupun calon pengiklan.
Cara Kerja Fictive Followers dan Potensi Penghasilannya
Skema kerja fictive followers umumnya cukup sederhana. Peserta hanya diminta mengikuti akun tertentu, menyukai unggahan, menonton video, atau memberikan komentar sesuai instruksi. Setiap tugas memiliki nominal bayaran berbeda tergantung tingkat kesulitannya.
Dalam beberapa kasus, satu tugas dapat dihargai mulai dari Rp10 ribu hingga Rp20 ribu. Jika dilakukan berkali-kali dalam sehari, penghasilan tambahan yang diperoleh bisa mencapai ratusan ribu rupiah per hari. Hal inilah yang membuat pekerjaan sampingan tersebut menarik bagi banyak orang.
Di sisi lain, bisnis jasa followers juga menjadi sumber keuntungan bagi agensi digital marketing. Mereka menawarkan paket followers dengan berbagai kategori, mulai dari akun bot hingga akun aktif yang dikelola manusia asli agar terlihat lebih natural.
Bahaya dan Risiko di Balik Followers Palsu
Meski terlihat menguntungkan, praktik fictive followers menyimpan sejumlah risiko. Beberapa modus bahkan berkembang menjadi penipuan berkedok kerja paruh waktu. Peserta awalnya diberi tugas sederhana, namun kemudian diarahkan melakukan deposit uang untuk menjalankan misi tertentu di platform lain.
Praktik penggunaan followers palsu juga dinilai dapat memengaruhi persepsi publik terhadap popularitas seseorang maupun sebuah brand. Manipulasi interaksi digital dianggap mampu membentuk opini sosial secara artifisial dan menyesatkan audiens.
Selain itu, rekam jejak digital juga menjadi perhatian penting. Aktivitas mengikuti akun tertentu secara massal atau terlibat dalam engagement palsu dapat memengaruhi reputasi digital seseorang di masa depan.
Popularitas Digital Kini Jadi Komoditas
Fenomena fictive followers menunjukkan bahwa popularitas di media sosial telah berubah menjadi komoditas ekonomi baru. Banyak pihak rela mengeluarkan uang demi terlihat memiliki pengaruh besar di dunia maya, sementara sebagian lainnya memanfaatkan situasi tersebut sebagai peluang mencari penghasilan tambahan.
Namun di balik potensi cuan yang menjanjikan, masyarakat tetap perlu berhati-hati terhadap berbagai modus penipuan dan praktik manipulasi digital yang semakin berkembang seiring pesatnya pertumbuhan media sosial.













