Kanal24, Malang – Batas geografis tidak lagi menjadi penghalang dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari Malaysia hingga Taiwan, kolaborasi internasional terus diperkuat untuk mempertemukan para peneliti, akademisi, dan praktisi dalam membangun inovasi yang mampu menjawab tantangan global. Pertukaran pengetahuan dan hasil riset tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam mendorong kemajuan teknologi, termasuk di bidang kecerdasan buatan dan pengembangan solusi untuk kehidupan yang lebih berkelanjutan.
Semangat inilah yang menjadi salah satu fokus dalam penyelenggaraan 13th Electrical Power, Electronics, Communications, Controls, and Informatics Seminar (EECCIS) 2026 bertema “Intelligent Technologies for Sustainable Living” yang digelar Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB), Selasa (02/06/2026), dengan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dari dalam maupun luar negeri untuk membahas pengembangan teknologi cerdas bagi kehidupan yang berkelanjutan.
Baca Juga:
Festival Kurban FT UB Perkuat Solidaritas Sosial Kampus
Membangun Riset Berkelanjutan Melalui Jejaring Internasional
Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Dr.Eng. Ir. Indradi Wijatmiko, S.T., M.Eng.(Prac)., IPU., ASEAN Eng., menegaskan bahwa konferensi internasional merupakan salah satu instrumen penting dalam mendukung pengembangan riset dan publikasi ilmiah di lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, kegiatan semacam ini tidak hanya menjadi ruang berbagi hasil penelitian, tetapi juga mempertemukan para peneliti untuk membangun kolaborasi yang lebih luas.

Ia menjelaskan bahwa Fakultas Teknik UB secara konsisten mendukung berbagai kegiatan akademik yang mampu menghasilkan inovasi, memperkuat jejaring penelitian, serta mendorong lahirnya berbagai kerja sama baru. Dukungan tersebut sejalan dengan arah pengembangan fakultas yang mengusung grand design penelitian Sustainable Energy Science.
Karena itu, tema “Intelligent Technologies for Sustainable Living” dinilai sangat relevan dengan fokus pengembangan yang sedang dilakukan Fakultas Teknik UB. Menurut Indradi, pemanfaatan teknologi cerdas untuk mendukung kehidupan berkelanjutan menjadi salah satu isu yang semakin penting untuk dikembangkan melalui penelitian dan kolaborasi lintas institusi.
Lebih lanjut, ia menyebut keberhasilan konferensi internasional dapat dilihat dari jumlah publikasi yang dihasilkan maupun kerja sama yang terbangun setelah kegiatan berlangsung. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa banyak kolaborasi riset dan publikasi bersama yang berawal dari forum akademik internasional seperti EECCIS.
Pada penyelenggaraan tahun ini, FT UB juga menggandeng sejumlah mitra luar negeri, termasuk Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM) serta universitas dari Taiwan yang memiliki reputasi kuat di bidang teknologi. Kehadiran mitra internasional tersebut diharapkan mampu membuka peluang kerja sama yang lebih luas dan memperkuat kapasitas riset fakultas di masa mendatang.
Indradi berharap berbagai kolaborasi yang terjalin melalui EECCIS tidak berhenti pada pelaksanaan konferensi semata, tetapi dapat berkembang menjadi kerja sama penelitian, publikasi, maupun program pengabdian kepada masyarakat yang memberikan manfaat lebih besar bagi dunia akademik dan masyarakat luas.
Dari AI hingga SDGs, Fokus Utama EECCIS 2026
General Chair EECCIS 2026, Mahdin Rohmatillah, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa EECCIS merupakan konferensi internasional yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali sebagai wadah untuk membahas perkembangan terbaru di bidang teknologi dan rekayasa.

Menurutnya, tema “Intelligent Technologies for Sustainable Living” dipilih karena sangat relevan dengan kondisi saat ini, ketika dunia tengah memasuki era kecerdasan buatan yang berkembang dengan sangat pesat. Berbagai inovasi berbasis AI dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung terciptanya kehidupan yang lebih berkelanjutan sekaligus membantu pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs).
Ia mengungkapkan bahwa mayoritas paper yang diterima dalam EECCIS 2026 membahas implementasi teknologi dan kecerdasan buatan untuk menjawab berbagai kebutuhan masyarakat modern. Mulai dari efisiensi sistem, pengembangan teknologi cerdas, hingga berbagai solusi yang mendukung keberlanjutan menjadi topik yang banyak mendapat perhatian para peneliti.
Mahdin juga menyoroti salah satu pembaruan dalam penyelenggaraan EECCIS tahun ini, yakni keterlibatan siswa SMA dan SMK dalam rangkaian kegiatan konferensi. Melalui lomba Programmable Logic Controller (PLC), panitia berupaya menjaring talenta-talenta muda yang memiliki minat dan kemampuan di bidang teknologi.
Menurutnya, pengembangan sumber daya manusia di bidang teknologi perlu dilakukan sejak dini agar Indonesia memiliki lebih banyak generasi insinyur yang siap menghadapi tantangan masa depan. Keterlibatan perguruan tinggi dalam mendampingi siswa sejak jenjang pendidikan menengah dinilai menjadi langkah strategis dalam membangun ekosistem teknologi yang lebih kuat.
Ke depan, Mahdin berharap EECCIS dapat terus berkembang dan memberikan dampak yang lebih luas terhadap implementasi konsep Society 5.0, baik bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, maupun berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Kolaborasi Global Dorong Inovasi Teknologi Berkelanjutan
Keynote Speaker EECCIS 2026, Prof. Jen-Tzung Chien, menilai konferensi internasional memiliki peran yang sangat penting dalam mempercepat perkembangan teknologi melalui kolaborasi lintas negara. Menurutnya, forum akademik seperti EECCIS menjadi ruang yang mempertemukan berbagai pemikiran, pengalaman, dan perspektif dari peneliti yang berasal dari latar belakang berbeda.

Ia menjelaskan bahwa kemajuan teknologi tidak dapat dicapai hanya oleh satu institusi atau satu negara saja. Dibutuhkan kolaborasi yang kuat agar para peneliti dapat saling bertukar gagasan, mendiskusikan berbagai tantangan, serta bersama-sama mengembangkan solusi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat global.
Menurut Prof. Chien, konferensi internasional memberikan kesempatan bagi para akademisi untuk membangun jejaring yang lebih luas sekaligus membuka peluang kerja sama penelitian yang berkelanjutan. Interaksi semacam ini dinilai sangat penting dalam mempercepat lahirnya inovasi baru yang berdampak nyata.
Ia juga menekankan bahwa kolaborasi lintas negara memiliki peran strategis dalam mendukung pengembangan teknologi yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Melalui kerja sama yang lebih erat, berbagai hasil penelitian dapat dikembangkan menjadi solusi yang lebih aplikatif dan memberikan manfaat yang lebih luas.
Ke depan, Prof. Chien berharap konferensi internasional dapat semakin terhubung secara global dengan melibatkan lebih banyak institusi dan peneliti dari berbagai kawasan dunia. Menurutnya, semakin luas kolaborasi yang terbangun, semakin besar pula peluang untuk menciptakan inovasi teknologi yang mampu mendukung kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan.
Harapan tersebut sejalan dengan semangat yang diusung EECCIS 2026, yakni memperkuat kolaborasi internasional sebagai fondasi pengembangan teknologi masa depan. Melalui pertemuan para akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara, konferensi ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya berbagai kerja sama baru yang memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. (wan)













