Kanal24, Malang – Generasi muda Indonesia dinilai mulai menjauh dari makanan tradisional, sementara ketergantungan terhadap gandum impor terus meningkat dari tahun ke tahun. Melihat kondisi tersebut, Profesor Universitas Brawijaya mendorong pengembangan sorgum dan modernisasi pangan lokal agar lebih diminati masyarakat masa kini.
Gagasan tersebut disampaikan Prof. Erni Sofia Murtini, S.T.P., M.P., Ph.D., saat dikukuhkan sebagai guru besar bidang Teknologi Serealia dan Makanan Tradisional Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya, Rabu (10/6/2026).
Menurut Prof. Erni, diversifikasi pangan menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan pangan impor.
Baca juga:
Dekan FH UB: Indonesia Tak Kekurangan Ide, yang Kurang Integritas
Ketergantungan Gandum Impor Masih Tinggi
Prof. Erni menjelaskan, konsumsi produk berbahan dasar gandum seperti mi, roti, dan kue terus meningkat di Indonesia. Padahal, gandum masih menjadi komoditas impor yang sangat bergantung pada pasar luar negeri.
Di sisi lain, Indonesia memiliki banyak sumber pangan lokal yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Salah satu komoditas yang dinilai memiliki potensi besar adalah sorgum.
Tanaman serealia tersebut dinilai mampu tumbuh di lahan marginal dan lahan dengan tingkat kesuburan rendah sehingga tidak bersaing dengan area budidaya padi.
Menurutnya, pengembangan sorgum dapat menjadi alternatif strategis untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus memperluas pilihan konsumsi masyarakat.
“Sorgum memiliki potensi besar karena dapat dikembangkan di berbagai kondisi lahan,” ujarnya.
Selain itu, tren global terhadap produk bebas gluten atau gluten free product juga dinilai membuka peluang besar bagi pangan lokal Indonesia untuk berkembang di pasar modern.
Ancaman Lost Generation Makanan Tradisional
Tak hanya soal serealia, Prof. Erni juga menyoroti mulai ditinggalkannya makanan tradisional oleh generasi muda.
Ia menyebut kondisi tersebut berpotensi memunculkan lost generation, yakni situasi ketika generasi muda hanya mengenal nama makanan tradisional tanpa pernah mencicipi ataupun mengetahui proses pembuatannya.
Fenomena tersebut dinilai menjadi tantangan serius bagi pelestarian budaya pangan Indonesia.
Menurutnya, perkembangan gaya hidup modern membuat sebagian anak muda lebih akrab dengan makanan internasional dibanding kuliner tradisional daerahnya sendiri.
“Pangan tradisional perlu dipromosikan dengan pendekatan yang lebih inovatif agar tetap relevan dengan generasi masa kini,” katanya.
Modernisasi Pangan Lokal
Prof. Erni menilai modernisasi menjadi langkah penting agar makanan tradisional tetap mampu bersaing di pasar modern tanpa kehilangan identitas budaya.
Modernisasi tersebut dapat dilakukan melalui inovasi rasa, pengembangan produk, desain kemasan, hingga strategi pemasaran digital.
Dengan pendekatan tersebut, makanan tradisional tidak lagi dipandang sebagai produk kuno, tetapi dapat menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern.
Ia juga menilai kolaborasi antara akademisi, industri pangan, dan pelaku UMKM penting untuk memperluas pengembangan produk pangan lokal berbasis serealia.
Selain meningkatkan nilai ekonomi, langkah tersebut juga dinilai mampu membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Prof. Erni berharap pengembangan sorgum dan inovasi makanan tradisional dapat menjadi bagian dari strategi besar Indonesia dalam membangun sistem pangan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Menurutnya, ketahanan pangan tidak hanya berbicara soal ketersediaan bahan pangan, tetapi juga kemampuan bangsa memanfaatkan kekayaan pangan lokal secara optimal.
“Indonesia memiliki sumber daya pangan yang sangat beragam. Tantangannya adalah bagaimana mengembangkan dan mengenalkannya kembali kepada masyarakat,” ujarnya. (nid)














