Kanal24, Malang – Universitas Brawijaya kehilangan salah satu putra terbaiknya. Prof. Dr. Eka Afnan Troena, S.E., Rektor Universitas Brawijaya periode 1998–2002, wafat pada Minggu (14/6/2026). Kepergian guru besar Fakultas Ekonomi itu tak hanya meninggalkan duka bagi keluarga dan sivitas akademika, tetapi juga menghidupkan kembali ingatan tentang sosok pemimpin yang ikut meletakkan fondasi penting perjalanan Universitas Brawijaya menuju kampus yang lebih terbuka dan mendunia.
Bagi sebagian generasi muda di UB hari ini, nama Prof. Eka mungkin hanya tercatat dalam deretan rektor yang pernah memimpin kampus. Namun bagi mereka yang pernah mengenalnya, Prof. Eka adalah lebih dari sekadar administrator perguruan tinggi.
Ia adalah guru. Ia adalah mentor. Ia adalah intelektual yang memilih menggunakan ilmunya bukan hanya untuk mengajar, tetapi juga untuk menyuarakan nilai-nilai yang diyakininya.
Di antara banyak ucapan duka yang mengalir di akun Instagram resmi Universitas Brawijaya, Guru Besar UB yang kini menjabat Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Prof. Ahmad Erani Yustika, mengenang Prof. Eka sebagai sosok akademisi yang melampaui batas-batas ruang kuliah.
“Beliau adalah mentor sejati dan aktivis sepanjang masa. Orator ulung dan pemimpin kharismatik. Ilmu pengetahuannya dipakai bukan hanya untuk pembelajaran, tapi juga meneriakkan kebenaran,” tulis Erani.
Menurut Erani, pengabdian Prof. Eka tidak berhenti pada jabatan maupun institusi yang pernah dipimpinnya. Jejaknya hidup melalui murid-murid, jejaring, dan gagasan yang tersebar di berbagai tempat.
“Pengabdiannya mengular panjang, baik di kampus maupun di luar universitas. Jaringan dan anak didiknya bertebaran di banyak lokasi dan institusi,” lanjutnya.
Ia juga mengenang Prof. Eka sebagai pemimpin yang terbuka terhadap berbagai pandangan dan dekat dengan generasi muda.
“Almarhum adalah salah satu rektor terbuka UB: peduli dengan isu sosial-politik dan dekat dengan para aktivis. Terlalu banyak kenangan dengan beliau, salah satunya diajak riset ketika saya baru lulus kuliah,” kenangnya.
Kesaksian itu seolah melengkapi jejak kepemimpinan Prof. Eka di Universitas Brawijaya.
Pada masa kepemimpinannya sebagai Rektor UB periode 1998–2002, kampus mulai memperluas jejaring internasional. Melalui unggahan resminya, Universitas Brawijaya mengenang bahwa pada era Prof. Eka, untuk pertama kalinya UB menerima mahasiswa asing di Fakultas Kedokteran.
Di masa yang sama, gagasan mengenai kelas internasional yang hingga kini masih berjalan juga mulai dirintis. Ketika internasionalisasi belum menjadi arus utama pendidikan tinggi Indonesia, Prof. Eka telah mendorong Universitas Brawijaya untuk berani membuka diri terhadap dunia yang lebih luas.
Masa kepemimpinannya berlangsung di tengah dinamika Reformasi, ketika Indonesia sedang menghadapi perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan. Namun di tengah situasi tersebut, ia tetap mengarahkan kampus untuk menatap masa depan, memperkuat jejaring, dan menyiapkan diri menghadapi perubahan zaman.
Bagi banyak orang, seorang rektor mungkin dikenang melalui kebijakan yang dibuatnya. Namun bagi murid-muridnya, seorang guru sering kali diingat karena kesempatan pertama yang diberikannya, kepercayaan yang ditanamkannya, atau keberanian berpikir yang ditularkannya.
Barangkali itulah yang membuat sosok Prof. Eka tetap hidup dalam ingatan banyak orang. Bukan semata karena jabatan yang pernah diemban, melainkan karena keteladanan yang diwariskan: keberanian menyuarakan kebenaran, keterbukaan terhadap perbedaan, serta pengabdian yang dijalani dengan sederhana dan tanpa lelah.
Kepergian Prof. Dr. Eka Afnan Troena memang meninggalkan duka. Namun jejaknya tetap hidup melalui para murid yang pernah disentuhnya, melalui Universitas Brawijaya yang terus bertumbuh, dan melalui keyakinan bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya dipelajari untuk dipahami, tetapi juga untuk memberi manfaat dan membela nilai-nilai kemanusiaan.
Selamat jalan, Prof. Eka. Terima kasih atas jejak pengabdian yang telah ditorehkan. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah almarhum, mengampuni segala khilafnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.(Din)














