Kanal24, Malang – Keberhasilan program pengabdian masyarakat tidak hanya ditentukan oleh banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi juga sejauh mana program tersebut mampu menjawab kebutuhan riil warga. Berangkat dari prinsip tersebut, penyusunan program berbasis aspirasi masyarakat menjadi langkah penting agar kolaborasi antara perguruan tinggi dan lingkungan sekitar menghasilkan dampak yang berkelanjutan, mulai dari peningkatan kualitas pendidikan keluarga, penguatan ekonomi warga, hingga penyelesaian persoalan lingkungan.
Gagasan tersebut disampaikan Ketua Pelaksana Program Lentera Jingga, Azizun Kurnia Illahi, S.I.Kom., M.A., dalam kegiatan Rembuk Bersama Program Lentera Jingga yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya bersama warga RW 1 hingga RW 5 Kelurahan Ketawanggede, Kota Malang, Kamis (30/7/2026). Forum tersebut menjadi ruang dialog untuk memetakan kebutuhan masyarakat sekaligus menyusun program pengabdian yang akan dijalankan FISIP UB melalui tiga fokus utama, yakni edukasi, lingkungan, dan ekonomi.
Baca juga:
Dosen dan Diktendik Berprestasi UB Cetak Inovasi Berdampak
Rembuk Bersama Jadi Langkah Awal Menyusun Program
Ketua Pelaksana Program Lentera Jingga, Azizun Kurnia Illahi, S.I.Kom., M.A., menjelaskan bahwa Lentera Jingga merupakan program pengabdian masyarakat yang dikembangkan FISIP UB dengan tiga fokus utama, yakni edukasi, lingkungan, dan ekonomi.
Menurutnya, rembuk bersama menjadi tahapan penting agar seluruh kegiatan yang dijalankan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat, bukan sekadar berdasarkan asumsi dari pihak kampus.

“Program utama kami memang berfokus pada tiga bidang, yaitu edukasi, lingkungan, dan ekonomi. Melalui rembuk ini kami ingin memastikan kegiatan yang akan dilakukan benar-benar sesuai dengan kebutuhan warga Kelurahan Ketawanggede, khususnya RW 1 sampai RW 5,” ujarnya.
Kelurahan Ketawanggede dipilih sebagai mitra karena memiliki kedekatan geografis dengan kampus FISIP UB. Selain itu, kawasan tersebut menjadi tempat tinggal banyak mahasiswa sehingga interaksi antara sivitas akademika dan masyarakat berlangsung hampir setiap hari.
Kondisi tersebut dinilai menjadi modal penting untuk membangun hubungan yang lebih erat antara kampus dan warga melalui berbagai program kolaboratif yang berkelanjutan.
Tiga Isu Utama Jadi Prioritas Program
Dari hasil diskusi bersama warga, FISIP UB memetakan tiga persoalan utama yang akan menjadi fokus program Lentera Jingga.
Pada sektor edukasi, kebutuhan terbesar datang dari para orang tua muda yang membutuhkan pendampingan terkait pola asuh anak. Menjawab kebutuhan tersebut, FISIP UB akan menggandeng tenaga ahli dari Program Studi Psikologi untuk menyelenggarakan sosialisasi dan pelatihan parenting.
Di bidang ekonomi, warga mengeluhkan penurunan pendapatan yang kerap terjadi saat mahasiswa pulang kampung selama masa liburan. Kondisi ini berdampak pada pelaku UMKM maupun pemilik rumah kos yang menggantungkan penghasilannya dari aktivitas mahasiswa.
Melalui keahlian yang dimiliki dosen dan mahasiswa, khususnya dari bidang komunikasi, FISIP UB berencana memberikan pendampingan branding, promosi digital, hingga penyusunan profil usaha agar UMKM dan rumah kos memiliki daya saing lebih baik.
“Kami berharap bisa membantu melakukan branding maupun profiling UMKM dan rumah kos sehingga mereka tetap dapat mempromosikan usahanya, termasuk saat jumlah mahasiswa sedang berkurang,” kata Azizun.
Sementara itu, pada aspek lingkungan, persoalan sanitasi dan rendahnya kesadaran memilah sampah menjadi perhatian utama, terutama di wilayah RW 3.
Sebagai tindak lanjut, FISIP UB akan mengadakan pelatihan pengelolaan sampah rumah tangga, mulai dari pemilahan sampah dari sumbernya hingga pengolahan yang lebih ramah lingkungan.
Program tersebut akan didukung oleh dosen-dosen yang telah berpengalaman menjalankan berbagai kegiatan pengabdian masyarakat di bidang lingkungan.
Bangun Sinergi Kampus dan Masyarakat Secara Berkelanjutan
Lebih dari sekadar menjalankan kegiatan sosial, FISIP UB menargetkan terciptanya kolaborasi jangka panjang dengan masyarakat sekitar kampus.
Melalui program parenting, diharapkan para orang tua memperoleh pengetahuan yang dapat diterapkan dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Di bidang ekonomi, pendampingan yang diberikan diharapkan mampu meningkatkan pendapatan UMKM dan usaha rumah kos melalui strategi promosi yang lebih efektif.
Sementara itu, pelatihan pengelolaan sampah diharapkan dapat menumbuhkan kebiasaan warga untuk memilah sampah sejak dari rumah sebagai langkah awal menciptakan lingkungan yang lebih sehat.
Azizun menegaskan bahwa tujuan terbesar dari Lentera Jingga adalah membangun hubungan yang saling menguatkan antara perguruan tinggi dan masyarakat.
“Kami berharap kolaborasi ini tidak berhenti pada program yang berjalan saat ini saja, tetapi terus berlanjut sehingga tercipta sinergi yang kuat antara FISIP Universitas Brawijaya dengan warga Kelurahan Ketawanggede,” pungkasnya.
Dengan pendekatan berbasis kebutuhan masyarakat, Lentera Jingga diharapkan menjadi model pengabdian yang tidak hanya memberikan solusi sesaat, tetapi juga menghadirkan dampak nyata dan berkelanjutan bagi lingkungan sekitar kampus.(ffn)














