Kanal24 – Gelombang panas yang membakar Eropa kini berubah menjadi krisis kemanusiaan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkap sedikitnya 1.300 orang meninggal dunia akibat suhu ekstrem yang melanda berbagai negara sejak 21 Juni 2026. Di saat bersamaan, jutaan warga masih harus bertahan di tengah temperatur yang terus memecahkan rekor.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut kondisi tersebut sebagai peringatan serius bahwa perubahan iklim kini membawa dampak nyata terhadap keselamatan manusia.
Gelombang panas yang bergerak ke kawasan Eropa Tengah dan Timur membuat puluhan juta penduduk menghadapi cuaca ekstrem sepanjang akhir pekan. Sejumlah negara melaporkan lonjakan angka kematian, sementara rumah sakit mulai kewalahan menangani pasien akibat suhu tinggi.
Baca juga:
2 Tahun Program FK UB Bersama NIHR di Desa Krebet, Warga Beralih ke Pola Hidup Bersih dan Sehat
Di Prancis, otoritas kesehatan melaporkan sekitar 1.000 kematian berlebih sejak pertengahan pekan lalu yang diduga berkaitan dengan gelombang panas. Jumlah tersebut diperkirakan masih dapat bertambah seiring proses pendataan korban di rumah sakit, panti jompo, maupun rumah tinggal.
Melalui akun media sosial X, Tedros mengatakan suhu tinggi telah memicu lebih dari 1.300 kematian berlebih di seluruh Eropa sejak 21 Juni.
Ia menyebut stres akibat panas sebagai “pembunuh senyap”, karena banyak rumah, tempat kerja, dan sekolah di Eropa tidak dirancang untuk menghadapi suhu setinggi saat ini. Selain memakan korban jiwa, cuaca ekstrem juga menyebabkan penutupan sekolah, membebani jaringan listrik, hingga mengganggu berbagai layanan publik.
Data menunjukkan sekitar 191 juta warga Eropa diperkirakan mengalami suhu mencapai 35 derajat Celsius atau lebih. Kondisi terparah terjadi di Jerman, Republik Ceko, Hungaria, dan Polandia.
Republik Ceko bahkan mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah setelah temperatur mencapai 41,1 derajat Celsius di Doksany. Untuk pertama kalinya, angka di atas 41 derajat Celsius tercatat dalam jaringan stasiun cuaca resmi negara tersebut.
WHO menegaskan perubahan iklim dan pemanasan global menjadi penyebab utama meningkatnya frekuensi gelombang panas ekstrem.
Menurut Tedros, fenomena yang dahulu hanya terjadi sekali dalam satu generasi kini hampir muncul setiap tahun. Ia juga mengingatkan bahwa Eropa merupakan benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia, yakni sekitar dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.
WHO saat ini terus bekerja sama dengan negara-negara anggotanya untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi cuaca panas ekstrem, mulai dari sistem peringatan dini hingga penguatan layanan kesehatan.
Organisasi tersebut juga mendesak pemerintah di berbagai negara Eropa agar segera menerapkan rencana aksi kesehatan menghadapi gelombang panas guna mengurangi risiko korban jiwa sekaligus meningkatkan perlindungan masyarakat dari dampak perubahan iklim.














