Kanal24, Malang – Sampah plastik masih menjadi persoalan yang dihadapi banyak kawasan perkotaan. Di tengah meningkatnya volume limbah rumah tangga, pengelolaan sampah berbasis masyarakat sering terkendala keterbatasan teknologi, pengetahuan, hingga minimnya nilai ekonomi yang diperoleh dari hasil pengolahan.
Berangkat dari tantangan tersebut, Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) menghadirkan solusi yang dapat langsung dimanfaatkan masyarakat. Sebuah mesin pencacah plastik diserahkan kepada Kelurahan Ketawanggede sebagai bagian dari Program Kampung Lingkar Kampus (KLK) dan Mahasiswa Membangun Mitra (3M). Kehadiran teknologi tepat guna ini diharapkan mampu memperkuat pengelolaan sampah sekaligus membuka peluang ekonomi dari limbah plastik.
Baca juga : KLK, Cara UB Mendekatkan Kampus dengan Warga
Kegiatan yang berlangsung di Balai RW 3 Kelurahan Ketawanggede, Selasa (30/6/2026), melibatkan mahasiswa FTAB UB di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Nur Lailatul Rahmah, S.Si., M.Si., Ph.D. sebagai Ketua DPL, bersama Dr. Retno Damayanti, STP., M.P., dan Tunjung Mahatmanto, STP., M.Si., Ph.D. sebagai anggota DPL. Program ini juga dihadiri Lurah Ketawanggede Raden Agung Harjaya Buana, S.E., M.S.E., Ketua Tim Penggerak PKK, para Ketua RW dan RT, serta sekitar 40 peserta dari masyarakat.

Dalam sambutannya, Ketua DPL Nur Lailatul Rahmah, Ph.D. mengajak masyarakat melihat sampah dari sudut pandang yang berbeda.
“Sampah saat ini tidak lagi dipandang sebelah mata karena sampah masa kini dapat diubah menjadi cuan dengan penanganan yang tepat.”
Pernyataan tersebut menjadi semangat utama program, yakni mengubah limbah plastik dari persoalan lingkungan menjadi sumber nilai tambah bagi masyarakat.
Transfer Teknologi Menjadi Kunci Keberlanjutan Program
Keberhasilan teknologi tepat guna tidak hanya ditentukan oleh kualitas alat yang diberikan, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat mengoperasikan, merawat, dan memanfaatkannya secara mandiri. Banyak program bantuan berhenti ketika pendampingan berakhir karena penerima belum memiliki pengetahuan teknis yang memadai. Kondisi inilah yang ingin dihindari dalam Program Kampung Lingkar Kampus dan Mahasiswa Membangun Mitra FTAB UB.
Karena itu, penyerahan mesin pencacah plastik dibarengi dengan pelatihan teknis kepada masyarakat. Mahasiswa FTAB UB memberikan pendampingan mulai dari cara pengoperasian mesin, prosedur perawatan, hingga penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Pembelajaran dilakukan secara interaktif agar masyarakat tidak hanya memahami fungsi alat, tetapi juga memiliki keterampilan untuk mengoperasikan serta merawatnya secara mandiri sehingga manfaat teknologi dapat terus dirasakan dalam jangka panjang.

Sebagai pelengkap, tim juga menyerahkan modul pembelajaran dan media edukasi berupa x-banner yang dapat digunakan sebagai panduan penggunaan mesin sekaligus media penyebarluasan informasi kepada warga. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pengabdian masyarakat tidak berhenti pada penyerahan teknologi, tetapi juga membangun kapasitas masyarakat agar inovasi yang dihadirkan benar-benar menjadi solusi yang berkelanjutan
Mengurangi Sampah, Membuka Peluang Ekonomi
Bagi FTAB UB, teknologi tepat guna menjadi pintu masuk untuk membangun pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. Proses pencacahan plastik diharapkan mampu mengurangi volume limbah sekaligus meningkatkan nilai tambah sebagai bahan baku daur ulang. Pendekatan ini mendukung pencapaian SDGs 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, SDGs 11 mengenai kota dan permukiman berkelanjutan, serta SDGs 8 yang mendorong tumbuhnya peluang ekonomi berbasis masyarakat.
Lurah Ketawanggede Raden Agung Harjaya Buana mengapresiasi kolaborasi yang dibangun Universitas Brawijaya bersama masyarakat.

“Kami berharap bantuan teknologi tepat guna ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Kehadiran mahasiswa tidak hanya membawa ilmu pengetahuan, tetapi juga menghadirkan solusi yang dapat diterapkan secara langsung dalam menjawab permasalahan lingkungan di Kelurahan Ketawanggede,” ujarnya.
Transfer Pengetahuan untuk Keberlanjutan
Ketua tim mahasiswa, Alvin, menjelaskan bahwa keberhasilan program tidak ditentukan oleh penyerahan alat semata, melainkan dari kemampuan masyarakat mengelolanya secara mandiri.
“Teknologi akan memberikan dampak apabila dapat digunakan secara mandiri oleh masyarakat. Oleh karena itu, kami tidak hanya menyerahkan mesin pencacah plastik, tetapi juga menyediakan modul dan media edukasi agar proses transfer pengetahuan dapat berlangsung secara berkelanjutan,” ungkap Alvin.
Pendekatan tersebut menjadi ciri Program Kampung Lingkar Kampus dan Mahasiswa Membangun Mitra. Solusi yang dibawa perguruan tinggi tidak berhenti sebagai bantuan sesaat, tetapi dirancang agar dapat terus dimanfaatkan masyarakat melalui pendampingan, edukasi, dan penguatan kapasitas warga.
Sinergi antara sivitas akademika dan masyarakat inilah yang diharapkan mampu menghadirkan pengelolaan sampah yang lebih efektif sekaligus memperkuat peran teknologi tepat guna dalam menjawab persoalan lingkungan di tingkat lokal. (Din)














