Kanal24, Malang – Banyak orang pernah mengeluhkan tidak memiliki baju untuk dipakai, padahal lemari di rumah sudah dipenuhi berbagai koleksi pakaian. Fenomena ini semakin sering terjadi seiring cepatnya pergantian tren fashion yang hadir hampir setiap hari melalui media sosial dan platform belanja daring.
Kondisi tersebut memunculkan ajakan untuk mulai mengurangi kebiasaan membeli pakaian secara impulsif. Sejumlah pegiat fashion berkelanjutan mengingatkan bahwa memanfaatkan pakaian yang sudah dimiliki jauh lebih bermanfaat dibanding terus mengikuti tren yang datang silih berganti. Selain menghemat pengeluaran, langkah ini juga membantu mengurangi dampak limbah dari industri fashion.
Baca juga
Balas Chat Pakai AI Makin Populer, Praktis tapi Benarkah Mengikis Hubungan Sosial?
Belanja Karena Tren, Bukan Kebutuhan
Kemudahan berbelanja secara online membuat masyarakat semakin mudah tergoda membeli pakaian baru. Berbagai promo, diskon besar, hingga konten fashion haul di media sosial sering kali mendorong seseorang membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Desainer sekaligus penulis Ichwan Thoha menilai kebiasaan tersebut berawal dari sulitnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Menurutnya, sebelum membeli pakaian baru, seseorang sebaiknya bertanya apakah barang tersebut benar-benar akan sering digunakan atau hanya mengikuti tren sesaat.
Industri fast fashion juga mempercepat siklus konsumsi masyarakat. Koleksi baru yang terus bermunculan membuat pakaian lama terasa cepat ketinggalan zaman, meski kondisinya masih sangat layak dipakai. Padahal, membeli lebih sedikit dan menggunakan pakaian lebih lama merupakan salah satu langkah sederhana untuk mendukung gaya hidup yang lebih berkelanjutan.
Maksimalkan Isi Lemari
Mengurangi kebiasaan belanja bukan berarti mengorbankan penampilan. Justru, kreativitas dalam memadukan pakaian lama dapat menghasilkan gaya yang tetap menarik tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan.
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menata ulang isi lemari dan memilih pakaian yang benar-benar sering digunakan. Konsep capsule wardrobe, yakni memiliki beberapa pakaian dasar yang mudah dipadukan dalam berbagai kesempatan, kini juga semakin banyak diterapkan karena dinilai lebih praktis dan efisien.
Pakaian yang sudah jarang dipakai pun tidak harus berakhir menjadi sampah. Masih banyak pilihan lain, seperti mendonasikannya, menjual kembali, atau menukarnya dengan orang lain agar memiliki manfaat baru.
Fashion Bijak, Dompet dan Lingkungan Lebih Aman
Kesadaran terhadap pentingnya sustainable fashion terus meningkat di berbagai negara. Gerakan seperti thrifting, clothing swap, hingga memperbaiki pakaian yang rusak mulai menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin tetap tampil menarik tanpa harus terus membeli produk baru.
Di tengah meningkatnya biaya hidup, kebiasaan memakai kembali pakaian yang sudah dimiliki juga menjadi langkah cerdas dalam mengelola keuangan. Dana yang biasanya digunakan untuk mengikuti tren bisa dialihkan untuk kebutuhan lain yang lebih penting, seperti menabung, berinvestasi, atau mengembangkan diri.
Pada akhirnya, penampilan tidak ditentukan oleh seberapa sering seseorang membeli baju baru. Gaya berpakaian justru lebih mencerminkan kreativitas dalam memadukan koleksi yang sudah ada. Sebelum tergoda menambah isi lemari, ada baiknya membuka kembali pakaian yang telah dimiliki. Bisa jadi, outfit terbaik selama ini sebenarnya sudah menunggu untuk dikenakan kembali.(ffn)














