Kanal24, Malang – Anak-anak kini tumbuh di tengah derasnya arus informasi digital. Kemampuan menggunakan gawai saja tidak cukup. Sejak usia sekolah dasar, mereka perlu dibekali kemampuan mengenali informasi, memahami etika di ruang digital, serta mengatur penggunaan gawai agar teknologi tidak justru mengambil alih aktivitas sehari-hari.
Kebutuhan tersebut menjadi perhatian Departemen Psikologi Universitas Brawijaya (UB) melalui pelatihan “Gen-Digital Bijak: Pelatihan Dasar Literasi Digital” bagi siswa kelas II dan III SD Al Irsyad Al Islamiyyah Malang, Rabu (15/7/2026).
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut mengenalkan sejumlah dasar literasi digital kepada anak, mulai dari etika menggunakan teknologi, batas penggunaan gawai, hingga pentingnya memilih informasi secara bijak.
Baca juga:
Psikologi UB Bongkar Bahaya Cognitive Hacking di Era AI

Literasi Digital Dikenalkan Sejak Sekolah Dasar
Tantangan anak di era digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi. Mereka juga berhadapan dengan banjir informasi yang membutuhkan kemampuan untuk memahami, memilah, dan menyikapinya secara tepat.
Karena itu, Departemen Psikologi UB mengenalkan fondasi literasi digital sejak usia sekolah dasar. Edukasi dirancang dengan pendekatan yang sesuai dengan usia siswa agar materi lebih mudah dipahami dan tidak terasa seperti pembelajaran di kelas.
Kegiatan berlangsung di aula SD Al Irsyad Al Islamiyyah Malang. Program diawali dengan pre-test untuk mengetahui pemahaman awal siswa mengenai penggunaan teknologi dan gawai.
Siswa kemudian diajak mengikuti permainan edukatif tebak emoji yang mengangkat berbagai kebiasaan dalam penggunaan teknologi digital sehari-hari.
Setelah suasana lebih cair, materi utama disampaikan oleh Sofia Nuryanti, S.Si., M.A., dosen Psikologi UB. Materi mencakup pengertian dan manfaat literasi digital, etika beraktivitas di ruang digital, dampak penggunaan gawai secara berlebihan, serta berbagai aktivitas alternatif yang dapat dilakukan anak di luar layar.
Baca juga: Mahasiswa Psikologi UB Buka Konseling Gratis dan Psikoedukasi
Anak Diajak Memahami Dampak Penggunaan Gawai
Agar materi lebih mudah diterima, pelatihan tidak hanya mengandalkan penyampaian secara verbal. Siswa juga diperlihatkan video edukatif yang menggambarkan dampak penggunaan gawai secara berlebihan.
Dari tayangan tersebut, siswa diajak mengenali kebiasaan yang kurang sehat dalam menggunakan gawai sekaligus mencari aktivitas lain yang dapat dilakukan ketika tidak berada di depan layar.
Interaksi kemudian dilanjutkan melalui sesi berbagi pengalaman. Siswa menceritakan kebiasaan mereka dalam menggunakan gawai sekaligus menjawab sejumlah pertanyaan mengenai penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.
Antusiasme terlihat ketika siswa mulai berani menjawab pertanyaan tentang dampak bermain gawai terlalu lama hingga menceritakan pengalaman pribadi di depan teman-temannya.
Pendekatan tersebut membuat literasi digital tidak berhenti pada pemahaman mengenai teknologi, tetapi mulai diarahkan pada kemampuan anak mengenali kebiasaan dan mengambil keputusan yang lebih bijak.
Untuk melihat perubahan pemahaman setelah mengikuti pelatihan, kegiatan ditutup dengan post-test. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan skor pemahaman siswa mengenai penggunaan gawai secara bijak dibandingkan hasil pre-test.
Sinergi Kampus dan Sekolah Perkuat Edukasi Anak
Program tersebut mendapat apresiasi dari SD Al Irsyad Al Islamiyyah Malang. Edukasi literasi digital dinilai dapat memperkuat upaya sekolah dalam membentuk karakter siswa sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi lingkungan digital yang terus berkembang.
Bagi Departemen Psikologi UB, pengenalan literasi digital sejak dini menjadi bagian penting dalam membangun kebiasaan anak ketika berhadapan dengan teknologi.
Edukasi tersebut juga menunjukkan bahwa pembentukan kecakapan digital tidak harus menunggu anak memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kemampuan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab dapat mulai dibangun melalui kebiasaan sederhana sejak sekolah dasar.
Departemen Psikologi UB berharap program serupa dapat dilaksanakan secara berkesinambungan sebagai bentuk sinergi perguruan tinggi dan sekolah dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga mampu bersikap kritis, bertanggung jawab, dan bijak di ruang digital. (afr)














