Kanal24, Ngawi – Keterbatasan lahan tidak harus menjadi penghalang bagi keluarga untuk menghasilkan pangan dari rumah. Melalui sistem aquaponik, ikan dan sayuran dapat dibudidayakan secara bersamaan dalam satu rangkaian yang memanfaatkan ruang dan air secara lebih efisien.
Konsep tersebut dikenalkan mahasiswa Kelompok 46 Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya (UB) kepada ibu-ibu PKK Desa Sirigan, Kabupaten Ngawi, Selasa (14/7/2026).
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diperkenalkan dengan budidaya ikan lele dan kangkung, pemanfaatan limbah organik menggunakan maggot Black Soldier Fly (BSF), hingga pengolahan hasil budidaya menjadi produk pangan bernilai tambah.
Program ini menyasar ibu-ibu PKK karena dinilai memiliki peran penting dalam pengelolaan pangan rumah tangga sekaligus pengembangan ekonomi keluarga.
Kegiatan juga melibatkan Ibnu Malik Afandi, S.Pd., guru SMPN 1 Paron sekaligus peternak lele di Desa Sirigan. Dukungan turut diberikan Sri Widyaningsih selaku Bidan Desa Sirigan, Indhita selaku Ketua PKK Desa Sirigan, serta anggota PKK yang mengikuti kegiatan.
Baca juga:
Program SEHATI : MMD UB Edukasi Ibu Balita tentang Gizi Seimbang di Desa Langlang

Aquaponik Gabungkan Budidaya Ikan dan Sayuran
Sistem aquaponik menjadi salah satu inovasi yang diperkenalkan karena dapat menggabungkan budidaya ikan dan tanaman dalam satu sistem. Konsep tersebut memungkinkan masyarakat memanfaatkan ruang terbatas untuk menghasilkan lebih dari satu jenis pangan.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa mengenalkan penggunaan galon bekas sebagai wadah sederhana untuk budidaya ikan lele. Pemanfaatan bahan bekas tersebut sekaligus menjadi upaya mengurangi limbah plastik yang masih memiliki potensi guna.
Materi mengenai budidaya lele disampaikan Raihan Rakha Satria. Ia menjelaskan bahwa budidaya ikan tidak selalu membutuhkan kolam permanen maupun lahan luas.
“Budidaya ikan tidak selalu membutuhkan kolam permanen dengan biaya yang besar. Galon bekas yang selama ini hanya menjadi sampah sebenarnya masih memiliki nilai guna apabila dimanfaatkan secara kreatif,” jelas Raihan.
Menurutnya, pemanfaatan bahan yang tersedia di sekitar rumah dapat menjadi langkah awal bagi masyarakat yang ingin mencoba budidaya ikan dengan biaya relatif terjangkau.
Sementara itu, Putra Setya Adhi Wirawan memperkenalkan teknik budidaya kangkung sebagai bagian dari sistem aquaponik. Kangkung dipilih karena relatif mudah dibudidayakan dan memiliki masa panen yang cukup singkat.
“Kami sengaja memilih tanaman yang sederhana dan sudah akrab dengan masyarakat agar teknologi aquaponik terasa lebih mudah diterapkan setelah pelatihan ini selesai,” ujar Putra.
Baca juga:
Mahasiswa MMD UB Kembangkan Sistem Monitoring Kelembapan Tanah Berbasis IoT
Maggot BSF Ubah Limbah Jadi Pakan Ikan
Konsep pemanfaatan sumber daya juga diperluas melalui pengenalan maggot Black Soldier Fly (BSF). Mahasiswa MMD UB mengenalkan maggot sebagai salah satu alternatif pakan ikan sekaligus sarana mengolah limbah organik rumah tangga.
Rafa Satria Anggaky menjelaskan bahwa biaya pakan menjadi salah satu komponen penting dalam budidaya lele. Pemanfaatan maggot dapat menjadi alternatif untuk membantu menekan biaya sekaligus memanfaatkan limbah organik yang tersedia di lingkungan sekitar.
“Limbah sayuran yang selama ini dibuang ternyata masih memiliki nilai ekonomi. Dengan membudidayakan maggot, limbah tersebut dapat diubah menjadi pakan ikan sehingga tercipta siklus pemanfaatan yang lebih berkelanjutan,” ungkap Rafa.
Dengan pendekatan tersebut, sistem budidaya tidak hanya menghasilkan ikan dan sayuran, tetapi juga berupaya mengurangi bahan yang terbuang melalui pemanfaatan kembali limbah.
Dari Budidaya hingga Peluang Usaha
Mahasiswa MMD UB juga membekali anggota PKK dengan pengetahuan dasar kewirausahaan. Materi tidak hanya diarahkan agar masyarakat mampu menghasilkan pangan, tetapi juga memahami potensi ekonomi dari hasil budidaya.
Revananda Oktavia Ramadhani memperkenalkan Business Model Canvas (BMC) sebagai alat untuk menyusun model bisnis sederhana. Sementara itu, Nachuia Cemara Kilimanjaro Agnitian Putri menjelaskan perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP), margin keuntungan, hingga omzet.
“Budidaya akan memberikan manfaat ekonomi apabila masyarakat memahami bagaimana menghitung biaya produksi, menentukan harga jual, dan merencanakan pemasaran produk,” jelas Nachuia.
Hasil budidaya juga diperkenalkan untuk diolah menjadi produk pangan lain. Salah satunya melalui pengolahan ikan lele menjadi gyoza.
Diversifikasi tersebut membuka kemungkinan agar hasil budidaya tidak hanya dijual dalam bentuk ikan segar. Produk olahan dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus memperluas peluang pemasaran.
Dorong Kemandirian Pangan Keluarga
Ketua PKK Desa Sirigan, Indhita, mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa MMD UB. Menurutnya, materi yang diberikan cukup beragam karena tidak hanya membahas teknik budidaya, tetapi juga pengolahan hasil dan pengelolaan usaha.
“Kami berharap ilmu yang diperoleh hari ini dapat diterapkan oleh anggota PKK di rumah masing-masing dan menjadi awal terbentuknya kegiatan budidaya yang mampu mendukung ketahanan pangan keluarga,” tuturnya.
Melalui integrasi budidaya lele dan kangkung, pemanfaatan limbah organik dengan maggot BSF, serta pengolahan hasil menjadi produk bernilai tambah, Kelompok 46 MMD UB berharap masyarakat Desa Sirigan dapat mengembangkan pemanfaatan lahan secara lebih produktif.
Program tersebut sekaligus menunjukkan bahwa keterbatasan lahan dapat disiasati melalui teknologi sederhana yang disesuaikan dengan potensi lokal. Dari ruang terbatas, masyarakat dapat mulai membangun sumber pangan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi keluarga. (afr)













