Kanal24, Malang – Tidak semua orang bisa langsung menyukai pasangan baru dari seorang teman. Ada yang merasa kehadirannya mengubah dinamika pertemanan. Ada pula yang sejak awal melihat karakter pasangan tersebut tidak cocok dengan temannya. Situasi seperti ini cukup umum, tetapi bukan berarti rasa tidak suka harus selalu berujung pada campur tangan.
Ketika teman mulai memiliki pasangan, perubahan dalam hubungan pertemanan memang bisa terasa. Waktu yang sebelumnya sering dihabiskan bersama mungkin berkurang. Namun, sebelum menyimpulkan bahwa pasangan teman adalah sumber masalah, penting untuk melihat persoalannya secara lebih jernih.
Baca Juga:
5 Buah Pendukung Kesuburan Wanita untuk Promil
Cari Tahu Alasan Tidak Menyukai
Langkah pertama adalah memahami alasan di balik rasa tidak suka tersebut. Jangan sampai ketidaksukaan muncul hanya karena pasangan teman memiliki karakter berbeda atau tidak sesuai dengan ekspektasi kita.
Perbedaan sifat, gaya komunikasi, hobi, hingga cara bersosialisasi bukan otomatis menjadi tanda hubungan yang buruk. Bisa saja pasangan teman memang tidak cocok dengan kita, tetapi justru mampu membangun hubungan yang baik dengan teman.
Karena itu, introspeksi penting dilakukan. Apakah benar ada perilaku yang merugikan teman atau kita hanya merasa kehilangan kedekatan setelah teman memiliki pasangan?
Bedakan Ketidakcocokan dan Red Flag
Situasinya berbeda jika ketidaksukaan muncul karena melihat perilaku yang berpotensi membahayakan teman. Sikap mengontrol, merendahkan, mengisolasi dari lingkungan sosial, hingga kekerasan merupakan persoalan yang patut diperhatikan.
Dalam kondisi tersebut, diam bukan selalu pilihan terbaik. Teman dapat diajak berbicara secara pribadi. Namun, pembicaraan sebaiknya berangkat dari kepedulian, bukan dengan langsung menjelekkan pasangan.
Kalimat seperti “Aku khawatir melihat kamu diperlakukan seperti itu” dapat membuka percakapan lebih baik daripada memaksa teman mengakhiri hubungannya. Keputusan akhirnya tetap berada di tangan teman.
Jangan Terjebak Penilaian Pertama
Jika tidak ada tanda bahaya yang jelas, memberikan kesempatan untuk mengenal pasangan teman lebih jauh juga bisa menjadi pilihan.
Kesan pertama tidak selalu menggambarkan seseorang secara utuh. Pasangan teman mungkin terlihat pendiam, kaku, atau kurang ramah ketika pertama kali bertemu karena masih berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.
Mengenalnya lebih jauh bukan berarti harus menyukai atau menjadi dekat dengannya. Setidaknya, kita memiliki kesempatan untuk menilai berdasarkan pengalaman, bukan sekadar asumsi.
Tetap Jaga Batas Pertemanan
Jika setelah mengenal lebih jauh tetap tidak merasa cocok, tidak masalah. Pertemanan tidak mengharuskan seseorang menyukai semua orang yang hadir dalam kehidupan temannya.
Yang perlu dijaga adalah batas. Hindari memaksa teman memilih antara persahabatan dan pasangan. Jangan pula menjadikan teman lain sebagai tempat untuk terus membicarakan keburukan pasangan tersebut.
Teman tetap dapat diajak melakukan aktivitas bersama seperti sebelumnya. Pada saat yang sama, berikan ruang bagi hubungan romantis yang sedang dijalaninya.
Pada akhirnya, kepedulian terhadap teman tidak selalu ditunjukkan dengan menentukan siapa yang harus menjadi pasangannya. Ada kalanya, bentuk kepedulian justru hadir dengan menyampaikan kekhawatiran secara jujur, kemudian menghargai keputusan yang dibuatnya.
Sebab, persahabatan yang sehat bukan tentang selalu menyetujui pilihan teman. Lebih dari itu, persahabatan membutuhkan kemampuan untuk peduli tanpa mengambil alih kendali atas kehidupan orang lain. (gal)













