Kanal24, Malang – Tim 7 Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Brawijaya (UB) kembali menguji alat tangkap rawai di Muara Klasin, Klasegun, Distrik Segun, Papua Barat Daya. Pengujian kedua ini melibatkan nelayan setempat dalam pengoperasian sekaligus pengamatan alat secara langsung di perairan yang menjadi bagian dari aktivitas masyarakat.
Uji coba dilakukan melalui proses setting pada 12 September dan dilanjutkan dengan hauling pada 13 September. Tim 7 mengoperasikan dua model rawai dengan jumlah mata kail berbeda, yakni 35 mata kail dan 30 mata kail.
Rawai dengan 35 mata kail dioperasikan sekitar pukul 17.00 WIT pada kedalaman 6,6 meter. Sementara itu, rawai dengan 30 mata kail dioperasikan sekitar pukul 17.27 WIT pada kedalaman 10,45 meter.
Baca juga: Green Market PSDKU Kediri UB Perluas Pasar UMKM Mrican

Uji Dua Konstruksi Rawai di Perairan Segun
Dalam pengujian tersebut, Tim 7 turut mengamati perbedaan konstruksi antara rawai dasar dan rawai midwater. Rawai dasar menggunakan dua pelampung bola sebagai penanda pada kedua ujung mainline.
Sementara itu, rawai midwater menggunakan 29 pelampung busa untuk 30 mata kail. Perbedaan konstruksi tersebut menjadi bagian dari pengamatan untuk melihat respons masing-masing alat ketika dioperasikan langsung di kondisi perairan.
Pengujian lapangan dilakukan untuk mengamati sejumlah aspek yang tidak selalu terlihat pada tahap persiapan alat. Pergerakan alat, pengaruh arus, posisi rawai di dalam air, hingga proses pengangkatan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan bagian konstruksi yang masih perlu disesuaikan.
Nelayan Lokal Beri Masukan soal Kondisi Perairan
Keterlibatan nelayan lokal menjadi bagian penting dalam uji coba. Pengalaman nelayan dalam mengenali kondisi perairan membantu Tim 7 melihat penggunaan alat dari perspektif praktik penangkapan sehari-hari.
Interaksi selama kegiatan juga menjadi ruang pertukaran pengetahuan mengenai kondisi perairan dan jenis ikan yang umum ditemukan di sekitar lokasi.
“Sembilang di sini sebenarnya cukup banyak, cuma memang belum terlalu diminati masyarakat. Selain sembilang, di sekitar sini juga masih ada ikan lain seperti kakap. Jadi kalau alatnya bisa disesuaikan lagi dengan kondisi perairan dan jenis ikan yang ada, menurut saya menarik untuk dicoba,” ungkap Yulul, salah satu nelayan dari Distrik Segun.
Masukan tersebut menjadi pertimbangan dalam mengevaluasi kesesuaian alat dengan kondisi perairan dan karakteristik ikan yang menjadi sasaran tangkapan. Dengan demikian, keberhasilan pengujian tidak hanya dilihat dari jumlah hasil tangkapan.

Baca juga: FAST UB Pamerkan AI Peternakan di ILDEX Indonesia 2026
Tim 7 Catat 23 Hasil Tangkapan
Dari rangkaian pengoperasian, Tim 7 mencatat hasil tangkapan berupa 21 ekor ikan sembilang, satu ekor ikan baubara, dan satu ekor kepiting. Data tersebut menjadi salah satu bahan pengamatan dalam mengevaluasi penggunaan alat tangkap di lokasi uji coba.
Catatan hasil tangkapan belum memisahkan secara spesifik hasil dari masing-masing model rawai maupun setiap tahapan hauling. Karena itu, angka tersebut merupakan hasil keseluruhan rangkaian pengoperasian dan bukan perbandingan antara rawai 35 mata kail dengan rawai 30 mata kail.
Selain hasil tangkapan, Tim 7 mengevaluasi konstruksi alat berdasarkan kondisi saat pengoperasian. Salah satu temuan berkaitan dengan posisi rawai ketika menghadapi arus, yang menjadi masukan untuk mempertimbangkan kembali penggunaan dan penempatan pemberat agar alat tetap berada pada posisi yang diharapkan.
“Secara keseluruhan konstruksinya sudah bisa digunakan dan kami bisa melihat respons alat secara langsung. Dari uji coba ini, kami jadi tahu bagian mana yang masih perlu dibenahi, terutama supaya rawai tidak mudah bergeser ketika terkena arus. Jadi, hasil di lapangan ini penting untuk menentukan perbaikan pada uji berikutnya.” kata Lukman, salah satu anggota TEP Tim 7 UB.
Uji Coba Jadi Dasar Pengembangan Alat
Uji coba kedua di Muara Klasin menjadi proses untuk mempertemukan rancangan alat dengan kondisi nyata di lapangan. Pengembangan alat tangkap tidak berhenti pada pembuatan konstruksi, tetapi membutuhkan pengujian berulang, pengamatan kondisi perairan, serta evaluasi berdasarkan hasil penggunaan.
Keterlibatan nelayan turut memberikan masukan berdasarkan pengalaman mereka dengan perairan setempat. Sementara itu, masyarakat dapat melihat secara langsung alat tangkap yang sedang diuji dan dikembangkan oleh Tim 7.
Temuan selama pengoperasian, hasil tangkapan, dan masukan masyarakat selanjutnya menjadi bahan evaluasi untuk melihat kemungkinan penyesuaian dan pengembangan alat tangkap pada tahap berikutnya. (Afr)














