Kanal24, Malang – Hari kelulusan bukan menjadi garis akhir bagi seorang bidan. Justru setelah sumpah diucapkan, 93 lulusan Pendidikan Profesi Bidan Universitas Brawijaya (UB) mulai membawa satu tanggung jawab baru: memastikan ilmu dan keterampilan yang mereka miliki benar-benar memberi manfaat bagi ibu dan anak.
Sebanyak 93 bidan baru UB mengucapkan sumpah profesi dalam prosesi yang digelar di Auditorium Gedung Pandhita Majapahit UB, Selasa (22/9/2026). Mereka telah menempuh Pendidikan Profesi Bidan selama sekitar dua semester atau satu tahun, dengan pengalaman praktik di TPMB, puskesmas, dan rumah sakit sebagai bagian dari persiapan memasuki dunia profesional.
Baca juga:
Lima Profesor UB Bawa Gagasan Riset untuk Jawab Persoalan Masyarakat
Sumpah Profesi Jadi Awal Pengabdian
Dekan Fakultas Kedokteran UB, Prof. Dr. dr. Wisnu Barlianto, M.Si., Med., Sp.A(K), mengatakan pengucapan sumpah menjadi bagian penting sebelum para lulusan menjalankan tugas profesionalnya.

Menurutnya, bidan memiliki peran penting dalam upaya promotif dan preventif, khususnya berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak. Peran tersebut tidak hanya berkaitan dengan proses persalinan, tetapi juga mencakup upaya menjaga kesehatan ibu serta mencegah berbagai masalah kesehatan pada anak.
“Bidan fokusnya kan ibu dan anak. Jadi bagaimana mereka nanti bisa berkontribusi untuk kesehatan ibu dan anak, sehingga angka kematian ibu dan bayi yang masih cukup tinggi di Indonesia ini bisa kita turunkan,” ujarnya.
Kepala Program Studi Pendidikan Profesi Bidan UB, Bdn Mega Ulfah, S.S.T., M.Keb., menambahkan, para lulusan telah mendapatkan pengalaman praktik selama menjalani pendidikan profesi. Hal tersebut menjadi bekal untuk menghadapi kebutuhan pelayanan di lapangan.

Ia menilai lulusan tidak cukup hanya memiliki kemampuan dalam membantu proses persalinan. Bidan juga perlu memahami aspek promotif dan preventif serta mampu mendukung tumbuh kembang bayi yang sehat.
Bidan UB Disiapkan Hadapi Tantangan Global
Selain kesiapan kompetensi, Departemen Kebidanan FK UB juga mendorong lulusan memiliki wawasan yang lebih luas. Ketua Departemen Kebidanan FK UB, Dr. Linda Ratna Wati, S.ST., M.Kes., mengatakan pendidikan profesi bidan di UB mulai diarahkan dengan orientasi internasional.

Menurut Linda, orientasi tersebut diharapkan membuka pandangan lulusan bahwa kompetensi yang mereka miliki tidak hanya dibutuhkan di Indonesia. Penguasaan bahasa internasional, terutama bahasa Inggris, menjadi salah satu bekal untuk menghadapi lingkungan profesional yang semakin luas.
“Ini adalah awal. Dunia itu luas, tantangannya juga besar. Banyak sekali peluang karier yang bisa kalian ambil. Jadi teruslah bermimpi, jangan menyerah dan terus bergerak maju,” pesannya kepada para lulusan.
Linda juga menyebut mahasiswa Pendidikan Profesi Bidan UB berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga wilayah Indonesia bagian timur. Keragaman tersebut menjadi modal bagi lulusan untuk membawa pengalaman dan kontribusi mereka kembali ke masyarakat di berbagai daerah.
Sementara itu, Mega mengatakan tantangan profesi bidan ke depan tidak hanya berasal dari perubahan kebutuhan masyarakat, tetapi juga dari perkembangan kompetensi dan kondisi lapangan kerja. Karena itu, lulusan dituntut memiliki kreativitas serta nilai tambah agar mampu bersaing.
Profesional, Inovatif dan Terus Berkembang
Ketua Umum AIPKIND, Dra. Jumiarni Ilyas, M.Kes., turut menyampaikan kebahagiaannya atas pengucapan sumpah 93 bidan baru tersebut. Ia berharap kerja sama antara organisasi profesi dan UB terus berjalan dalam mendukung lahirnya tenaga kebidanan baru.

Sementara itu, Ketua II PP IBI, Dra. Ropina S. Tarigan, S.ST., MM., yang hadir mewakili Ketua Umum PP IBI, berpesan agar para bidan baru menjaga profesionalisme dan terus berinovasi di mana pun bertugas.

“Harapan saya kepada bidan-bidan baru ini bekerjalah dengan profesionalisme dan inovatif di mana pun kalian berada. Kalian menjadi tempat ibu, tempat bayi untuk bertanya,” ujarnya.
Menurut Ropina, salah satu tantangan yang perlu diperhatikan para bidan baru adalah perubahan regulasi. Kebijakan di bidang kesehatan dapat terus berkembang sehingga tenaga kebidanan perlu mengikuti setiap perubahan agar tidak tertinggal.
Bagi para lulusan Pendidikan Profesi Bidan UB, sumpah profesi bukan menjadi akhir dari proses pendidikan. Momentum tersebut justru menjadi awal untuk menerapkan kompetensi, menjaga kepercayaan masyarakat, serta terus mengembangkan kemampuan dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada ibu dan anak. (ern)













