Kanal24, Malang – Memiliki potensi wisata, produk UMKM, dan kekayaan agroindustri tidak otomatis membuat sebuah desa mampu berkembang. Di tengah perubahan perilaku wisatawan yang semakin bergantung pada teknologi digital, promosi yang terbatas dan rendahnya literasi digital masih menjadi tantangan bagi banyak desa dalam memperluas pasar sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Berangkat dari tantangan tersebut, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya melalui program FISIP Bakti Desa (FBD) memulai pengabdian masyarakat di Desa Ngabab, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, dengan mengusung tema “Penguatan Ekosistem Transformasi Digital Desa untuk Mendukung Pariwisata, Ekonomi Lokal, dan Ketahanan Sosial Masyarakat Desa Ngabab.”
Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas desa dalam menghadapi era digital sekaligus mengoptimalkan potensi lokal melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat.
Pembukaan kegiatan berlangsung pada Kamis (2/7/2026) dan dihadiri Kepala Desa Ngabab Amin Affandi beserta perangkat desa, tokoh masyarakat, serta dua Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) FISIP UB, yakni Dr. Akhmad Muwafik Saleh dan Novy Setia Yunas. Sebanyak 38 mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok 37 dan Kelompok 38 akan melaksanakan pengabdian di Desa Ngabab selama satu bulan, mulai 30 Juni hingga 30 Juli 2026.
Kepala Desa Ngabab, Amin Affandi, menyambut baik kolaborasi tersebut. Menurutnya, Desa Ngabab memiliki potensi besar di sektor agroindustri, usaha mikro dan kecil, serta pengembangan Desa Wisata Edukasi Peternakan yang masih dapat terus dikembangkan.
“Desa Ngabab memiliki potensi yang besar di sektor agroindustri, usaha mikro dan kecil, serta pengembangan Desa Wisata Edukasi Peternakan. Kami berharap kolaborasi ini dapat memberikan gagasan dan inovasi yang bermanfaat bagi pengembangan potensi desa dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Transformasi Digital Dimulai dari Masyarakat
Dosen Pembimbing Lapangan Kelompok 37, Dr. Akhmad Muwafik Saleh, menjelaskan transformasi digital desa tidak cukup dimaknai sebagai penggunaan teknologi semata. Lebih dari itu, desa perlu mampu memanfaatkan teknologi sebagai instrumen untuk memperkuat ekonomi lokal, pariwisata, dan ketahanan sosial masyarakat.
Menurutnya, kegiatan pengabdian juga menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk memahami persoalan nyata yang dihadapi masyarakat desa.

“Mahasiswa perlu belajar dari realitas sosial di desa sekaligus menghadirkan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Transformasi digital saat ini bukan hanya tentang penggunaan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana desa mampu memanfaatkan teknologi tersebut untuk memperkuat sektor ekonomi, pariwisata, dan ketahanan sosial,” katanya.
Ia menilai salah satu potensi yang dapat dikembangkan adalah Dworowati Lantern Festival, agenda tahunan Desa Ngabab yang memiliki peluang menjadi destinasi wisata unggulan apabila didukung strategi promosi digital yang terintegrasi.
Media Sosial Jadi Penggerak Promosi Desa
Pandangan serupa disampaikan DPL Kelompok 38, Novy Setia Yunas. Menurutnya, keberhasilan transformasi digital desa tidak dapat dilepaskan dari keterlibatan generasi muda, khususnya Karang Taruna, dalam membangun komunikasi digital yang kreatif dan berkelanjutan.
Ia melihat media sosial telah menjadi salah satu instrumen paling efektif untuk memperkenalkan potensi desa sekaligus memperluas pasar bagi produk UMKM.
“Festival seperti Dworowati Lantern Festival memiliki potensi untuk dikenal lebih luas apabila dikelola melalui strategi komunikasi digital yang baik. Berbagai destinasi wisata di Indonesia menunjukkan bahwa media sosial mampu meningkatkan visibilitas suatu daerah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Karena itu, mahasiswa FBD diharapkan dapat berkolaborasi dengan Karang Taruna untuk memperkuat kapasitas promosi digital Desa Ngabab,” ujarnya.
Selain mendukung promosi pariwisata, program FISIP Bakti Desa juga akan memperkuat literasi digital masyarakat, meningkatkan kapasitas kelembagaan desa, serta mendukung pengembangan ekonomi lokal yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Melalui pendekatan tersebut, FISIP UB berharap Desa Ngabab tidak hanya mampu meningkatkan daya tarik wisatanya, tetapi juga membangun ekosistem digital yang memperkuat ketahanan sosial dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan. Program ini sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (din)














