Kanal24, Malang – Menyelesaikan skripsi bukan hanya perkara mampu mencari data, menyusun penelitian, atau mengejar target bimbingan. Mahasiswa juga harus berhadapan dengan kejenuhan, progres yang terasa tertinggal dari teman, ekspektasi yang tidak sesuai kenyataan, hingga tekanan ketika harus menyesuaikan diri dengan dosen pembimbing maupun penguji. Di titik inilah ketahanan mental menjadi bekal yang tidak kalah penting dari kemampuan akademik.
Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan “Penguatan Kesehatan Mental Mahasiswa dalam Menyelesaikan Tugas Akhir” yang digelar Fakultas Hukum Universitas Brawijaya di Gedung Widyaloka Fakultas Hukum UB, Rabu (19/8/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan Cleoputri Yusainy, S.Psi., M.Psi., Ph.D. dan Ziadatul Hikmiah, S.Pd., S.Psi., M.Sc. dari Departemen Psikologi FISIP UB.
Baca juga:
Bukan Cuma Pakai AI, Mahasiswa Hukum Harus Kritis
Ketahanan Mental Jadi Bekal Menghadapi Skripsi
Ziadatul Hikmiah menjelaskan, mahasiswa yang memasuki tahap tugas akhir biasanya menghadapi berbagai hambatan. Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis dan keterampilan akademik, tetapi juga kondisi dari dalam diri mahasiswa.

Karena itu, ketahanan mental perlu diperkuat sebagai salah satu bekal agar mahasiswa mampu melewati proses penyelesaian skripsi.
“Teman-teman dengan skripsi yang ada sudah ada di tugas akhir biasanya mereka punya beberapa hambatan. Nah, itu tidak hanya terkait dengan hal-hal yang teknis dan skill yang bisa dikuasai saja, tapi juga dari dalam diri mereka sendiri,” jelas Ziadatul.
Cleoputri Yusainy menilai skripsi merupakan salah satu periode penting dalam perjalanan kesarjanaan. Proses tersebut membutuhkan usaha, pengorbanan, serta kemampuan menghadapi berbagai tantangan agar mahasiswa dapat menyelesaikan tugas akhirnya.
Menurutnya, mahasiswa tidak hanya membutuhkan kondisi mental yang sehat, tetapi juga kondisi mental yang bugar atau fit.
“Pada dasarnya skripsi itu adalah suatu periode yang paling keren, periode terkeren dalam perjalanan kesarjanaan seseorang,” ujar Cleoputri.
Baginya, menyelesaikan skripsi merupakan bagian dari perjalanan yang membutuhkan kesiapan untuk menghadapi berbagai rintangan. Kemampuan tersebut menjadi penting agar mahasiswa tidak mudah kehilangan arah ketika menemui hambatan selama proses pengerjaan.
Jenuh hingga Ekspektasi yang Tidak Sesuai Kenyataan
Berbagai tantangan mahasiswa dalam mengerjakan skripsi juga tergambar dari pengalaman yang dikumpulkan Cleoputri melalui riset grup bersama BUI, Plasibo Research Group.
Dalam proses tersebut, mahasiswa yang telah menyelesaikan skripsi diminta membagikan pengalaman selama mengerjakan tugas akhir. Dari pengalaman tersebut, muncul berbagai tantangan, baik secara fisik maupun mental.
Salah satunya adalah kejenuhan. Menurut Cleoputri, skripsi memiliki karakter berbeda dengan perkuliahan. Jika dalam perkuliahan mahasiswa menghadapi beragam mata kuliah, saat mengerjakan skripsi perhatian mereka berfokus pada satu topik dalam waktu yang cukup panjang.
Kondisi tersebut dapat menimbulkan rasa jenuh sehingga mahasiswa perlu memiliki cara untuk mengelola dan mengatasinya.
Tantangan lain muncul ketika progres pengerjaan skripsi tidak berjalan secepat teman-teman di sekitarnya. Perbedaan progres tersebut dapat menjadi tekanan tersendiri bagi mahasiswa.
Selain itu, mahasiswa juga harus melakukan penyesuaian dengan dosen pembimbing maupun penguji. Berbagai persoalan tersebut menjadi lapisan tantangan yang harus dihadapi selama menyelesaikan tugas akhir.
Ziadatul menambahkan, kemampuan mengontrol ekspektasi juga menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan mental. Mahasiswa terkadang telah memiliki gambaran tertentu mengenai skripsi yang ingin dikerjakan, tetapi kondisi yang dihadapi tidak selalu sesuai dengan harapan.
“Kadang-kadang teman-teman mahasiswa sudah punya ekspektasi tertentu tentang skripsi mereka dan tugas akhir mereka, tapi seringnya tidak sejalan kenyataannya,” ungkap Ziadatul.
Karena itu, mahasiswa perlu belajar mengelola ekspektasi sekaligus menjaga konsistensi progres ketika menghadapi perubahan atau hambatan dalam proses pengerjaan.
Dukungan Dibutuhkan, Mahasiswa Tetap Harus Memperkuat Diri
Menurut Cleoputri, mahasiswa juga perlu memahami kapan dirinya membutuhkan dukungan selama mengerjakan tugas akhir.
Ia menjelaskan, proses skripsi berbeda dengan pembelajaran selama perkuliahan. Jika di dalam kelas mahasiswa mempelajari berbagai materi, skripsi menjadi tahap untuk menerapkan apa yang telah dipelajari sekaligus belajar bagaimana belajar.
“Skripsi itu learning to learn ya, belajar untuk belajar,” kata Cleoputri.
Karakter tugas akhir yang berbeda, ditambah adanya batas waktu penyelesaian, dapat membuat sebagian mahasiswa membutuhkan support system yang kuat.
Namun, dukungan dari lingkungan sekitar bukan berarti menjadi satu-satunya penentu keberhasilan. Cleoputri menekankan bahwa mahasiswa tetap perlu memperkuat kondisi mental dari dalam dirinya.
“Support system-nya sekuat apapun tetap individu yang bersangkutanlah yang kemudian perlu untuk memperkuat secara mentalnya terlebih dahulu,” jelasnya.
Melalui kegiatan tersebut, Ziadatul berharap mahasiswa yang sedang menempuh tugas akhir dapat memperoleh strategi untuk menghadapi berbagai tantangan selama proses pengerjaan. Pengetahuan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemahaman, tetapi dapat dipraktikkan hingga mahasiswa mampu menyelesaikan skripsinya.
Sementara itu, Cleoputri mengibaratkan proses menyelesaikan skripsi seperti sebuah race atau lomba lari. Perkuliahan yang ditempuh selama beberapa semester menjadi latihan, sementara penyelesaian skripsi menjadi salah satu bagian penting sebelum mahasiswa memasuki jenjang kehidupan berikutnya.
Menurutnya, jumlah orang yang telah menyelesaikan skripsi menunjukkan bahwa tugas akhir merupakan sesuatu yang sangat memungkinkan untuk dituntaskan. Namun, setiap orang dapat melewati garis akhir dengan kondisi yang berbeda.
“Ada yang selesainya itu selesai dengan cara kuat ya, finish strong,” tutur Cleoputri.
Harapannya, mahasiswa tidak hanya mampu mencapai garis akhir skripsi, tetapi juga menyelesaikannya dengan kondisi mental yang lebih siap untuk memasuki kehidupan setelah pendidikan sarjana. (ern)














