Kanal24, Malang – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius di Indonesia pada 2026. Fenomena El Niño yang membuat kondisi lebih kering memang meningkatkan risiko kebakaran, tetapi cuaca bukan satu-satunya faktor. Kondisi lahan yang telah terdegradasi hingga aktivitas manusia turut menentukan mudah tidaknya api muncul dan meluas.
Data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan mencatat luas areal karhutla di Indonesia pada Januari-Juni 2026 mencapai 107.465,47 hektare. Angka tersebut meningkat 366 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Situasi ini terjadi ketika Indonesia memasuki periode El Niño. BMKG menyebut fenomena tersebut berpotensi membuat musim kemarau 2026 lebih kering dan berlangsung lebih panjang di sebagian besar wilayah Indonesia, sehingga risiko kekeringan dan karhutla ikut meningkat.
Baca juga:
5 Puisi Kemerdekaan untuk Semarakkan Lomba 17 Agustus

El Niño Memperbesar Risiko, Bukan Menyalakan Api
El Niño bekerja dengan mengubah pola curah hujan sehingga sejumlah wilayah Indonesia mengalami kondisi yang lebih kering. Dalam situasi tersebut, vegetasi dan material organik yang mengering menjadi lebih mudah terbakar.
Namun, kondisi kering tidak serta-merta menghasilkan kebakaran tanpa adanya sumber api.
Pakar forensik kebakaran hutan dan lahan IPB University, Bambang Hero Saharjo, seperti dikutip Tirto, menilai kurang tepat jika El Niño disebut sebagai penyebab langsung karhutla. Fenomena iklim tersebut lebih berperan menciptakan kondisi yang membuat bahan bakar alami semakin mudah terbakar.
Pandangan serupa disampaikan peneliti BRIN Erma Yulihastin. Ia memperkirakan El Niño masih dapat menguat pada September dan Oktober 2026, sementara puncaknya diprediksi terjadi pada Desember. Kondisi tersebut membuat risiko karhutla masih berpotensi meningkat dalam beberapa bulan mendatang, terutama ketika kondisi kering bertemu dengan sumber api dari aktivitas manusia.
Artinya, persoalan karhutla tidak cukup dilihat dari sisi cuaca. Faktor manusia dan kondisi lingkungan turut menjadi bagian penting dari rantai terjadinya kebakaran.
Gambut Kering Membuat Api Lebih Sulit Dikendalikan
Salah satu persoalan yang menjadi sorotan adalah kondisi ekosistem gambut. Dalam keadaan alami, gambut merupakan ekosistem basah yang mampu menyimpan air dalam jumlah besar.
Namun, pengeringan lahan, perubahan tutupan lahan, dan pembangunan kanal dapat mengurangi kemampuan gambut mempertahankan air. Ketika kondisi tersebut bertemu dengan kemarau panjang, material organik gambut menjadi lebih mudah terbakar.
Data Pantau Gambut yang dikutip Tirto mencatat puluhan ribu titik panas berada di kawasan Kesatuan Hidrologis Gambut sepanjang Januari-Juli 2026. Kalimantan menjadi salah satu wilayah dengan sebaran titik panas terbesar.
Persoalan gambut juga membuat penanganan kebakaran menjadi lebih kompleks. Api tidak selalu hanya bergerak di permukaan. Pada gambut yang telah mengering, api dapat merambat ke lapisan bawah dan tetap membara meski api di permukaan telah dipadamkan.
Kondisi ini membuat upaya pemadaman membutuhkan penanganan yang lebih menyeluruh, bukan hanya memadamkan titik api yang terlihat.

Pencegahan Harus Dimulai Sebelum Api Muncul
Menghadapi ancaman karhutla, pemerintah memperkuat sistem peringatan dini melalui pemantauan hotspot dan fire spot dalam sistem SiPongi. Informasi tersebut digunakan sebagai dasar untuk mengarahkan tim di lapangan melakukan patroli dan pengecekan ketika ditemukan titik yang berpotensi menjadi kebakaran.
BMKG juga memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah. Salah satu tujuannya adalah menjaga kelembapan gambut agar tidak terlalu kering dan mudah terbakar.
Namun, upaya tersebut memiliki keterbatasan. OMC membutuhkan keberadaan awan yang dapat disemai sehingga tidak selalu efektif ketika atmosfer berada dalam kondisi sangat kering.
Karena itu, pencegahan karhutla perlu dilakukan sebelum kondisi menjadi darurat. Pengelolaan gambut, pengawasan aktivitas pembukaan lahan, pemantauan titik panas, hingga edukasi masyarakat menjadi bagian penting untuk memutus rantai kebakaran.
Dengan ancaman El Niño yang masih berlangsung, persoalan karhutla 2026 pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa kering Indonesia. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan kondisi lahan tetap terjaga dan sumber api dapat dicegah sebelum berubah menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan. (nid)













