Kanal24, Malang – Upaya pelestarian budaya kini tidak lagi cukup dilakukan melalui dokumentasi konvensional. Menjawab tantangan era digital, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) memperkuat Brawijaya Corpora Project (BCP) sebagai fondasi korpus budaya multimodal yang mengintegrasikan data bahasa, budaya, hingga multimedia dalam satu platform digital yang dapat dimanfaatkan masyarakat luas.
Memasuki tahun kedua pengembangannya, BCP diarahkan tidak sekadar menjadi tempat penyimpanan dokumentasi budaya. Platform ini dipersiapkan menjadi infrastruktur digital yang memiliki sistem pengelolaan data terstruktur, mudah ditelusuri, serta memenuhi standar akademik dan teknis sehingga dapat dimanfaatkan oleh peneliti, mahasiswa, pendidik, komunitas budaya, hingga masyarakat umum.
Baca juga:
Sekali Klik Bisa Jadi Pintu Masuk Radikalisme, Ini Peringatan Polisi

Komitmen tersebut ditegaskan melalui Workshop Pengembangan Brawijaya Corpora Project Menuju Korpus Budaya Multimodal yang diselenggarakan FIB UB pada Jumat (17/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi konsep Digital Humanities, yakni pemanfaatan teknologi digital untuk mendokumentasikan, mengelola, menganalisis, sekaligus menyebarluaskan pengetahuan mengenai kebudayaan Indonesia.
Bukan Sekadar Arsip, tetapi Korpus Budaya Digital
Berbeda dengan korpus bahasa yang umumnya hanya memuat data kebahasaan, BCP mengembangkan konsep korpus budaya multimodal.
Data yang dihimpun tidak hanya berupa kata atau istilah, tetapi juga foto, rekaman audio, video pertunjukan, dokumentasi objek budaya, arsitektur tradisional, hingga model tiga dimensi (3D).
Melalui integrasi tersebut, satu unsur budaya dapat dipahami secara lebih utuh. Sebuah istilah budaya, misalnya, tidak hanya memiliki definisi, tetapi juga dilengkapi referensi akademik, konteks penggunaan, dokumentasi visual, pelafalan, rekaman aktivitas budaya, hingga visualisasi 3D.
Project Leader Brawijaya Corpora Project, Wahyu Widodo, mengatakan workshop digelar setelah tim melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan proyek selama tahun pertama.
“Pada tahun kedua ini, kami memulai dengan semangat menata fundamental. Hal-hal yang sangat mendasar harus dibenahi terlebih dahulu agar sistem yang dibangun menjadi stabil dan memiliki prosedur kerja yang jelas untuk pengembangan selanjutnya,” ujar Wahyu.
Pada tahap awal, BCP telah mendokumentasikan dua kelompok budaya, yakni subkultur Tengger dan seni pertunjukan Reog, lengkap dengan glosarium budaya, foto, video, model 3D, serta sistem informasi budaya interaktif. Namun evaluasi menemukan perlunya peningkatan kualitas data leksikal, metadata, referensi akademik, serta dokumentasi multimedia.
Libatkan Pakar Nasional hingga Internasional
Workshop tersebut mengangkat dua tema utama, yakni peningkatan kualitas penambangan dan pengolahan data serta peningkatan kualitas dokumentasi multimedia dan produksi model 3D.
FIB UB menghadirkan Syarifuddin dari Museum Panji Malang yang membahas standar digitalisasi warisan budaya dan dokumentasi museum, serta Miguel Escobar Varela dari National University of Singapore (NUS) sebagai keynote speaker yang memberikan perspektif internasional mengenai pengembangan korpus budaya multimodal.
Kolaborasi dengan akademisi luar negeri diharapkan mampu memperkuat struktur data, desain platform, hingga mekanisme pengelolaan BCP agar sesuai dengan standar akademik global.
FIB UB Targetkan Jadi Rujukan Budaya Indonesia
Dekan FIB UB, Sahiruddin, S.S., M.A., Ph.D., menegaskan bahwa pengembangan BCP merupakan bagian dari upaya membawa kekayaan budaya Indonesia ke panggung internasional melalui platform digital yang terintegrasi.

“Fakultas Ilmu Budaya memiliki kewajiban untuk membawa budaya lokal ke tingkat internasional. Harapannya, BCP dapat menjadi salah satu rujukan ketika masyarakat ingin mempelajari budaya yang ada di Indonesia,” katanya.
Menurutnya, penguatan fondasi sistem menjadi tahap penting sebelum BCP diperluas melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, museum, komunitas budaya, hingga berbagai lembaga lainnya.
Tahun Kedua Fokus Arsitektur Nusantara
Pada fase kedua, cakupan BCP juga akan diperluas dengan mendokumentasikan arsitektur Nusantara, diawali dari subkultur Bojonegoro melalui rumah tradisional tipe Srotong.
Dokumentasi meliputi pengumpulan data lapangan, kajian arsitektur, foto, video, deskripsi budaya, hingga model tiga dimensi. Penambahan tema ini menandai perluasan BCP dari dokumentasi bahasa dan seni pertunjukan menuju dokumentasi ruang serta bangunan tradisional.
Selain itu, tim juga menyusun blueprint pengembangan platform, standar dokumentasi multimedia, sistem metadata, anotasi linguistik, fitur pencarian korpus, hingga rencana implementasi periode 2026–2027.
Dalam jangka panjang, BCP ditargetkan menjadi ruang temu antara ilmu humaniora, teknologi digital, dan kebutuhan masyarakat. Platform ini diharapkan mendukung penelitian, penyusunan materi pembelajaran, dokumentasi warisan budaya, hingga penyusunan kebijakan berbasis data serta promosi budaya Indonesia kepada dunia.
Wahyu menegaskan, BCP diharapkan berkembang menjadi salah satu referensi utama pengembangan korpus budaya multimodal di Indonesia.
“BCP tidak hanya berfungsi sebagai repositori budaya, tetapi diarahkan menjadi infrastruktur data yang mendukung penelitian linguistik dan pelestarian budaya Jawa Timur. Dengan prosedur dan standar yang semakin baik, kami berharap platform ini berkembang menjadi rujukan pada tingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya. (nid)














