Oleh: Prof. Dr.-Ing. Drs. Setyawan Purnomo Sakti, M.Eng*
Kanal24, Malang – Ketika berbicara tentang masa depan Indonesia, perhatian sering kali tertuju pada sumber daya alam, pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, hingga industrialisasi. Namun, ada satu sumber daya yang menentukan bagaimana seluruh potensi tersebut dapat dikelola dan dikembangkan, yaitu manusia.
Sumber daya manusia menjadi kunci karena kemajuan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan manusia dalam mengolah, mengembangkan, dan memberikan nilai tambah terhadap sumber daya tersebut.
Karena itu, ketika Indonesia berbicara tentang industrialisasi, pembicaraan mengenai pendidikan, riset, inovasi, dan talenta tidak dapat dipisahkan. Industrialisasi bukan sekadar membangun industri, tetapi membangun kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang memiliki nilai dan mampu bersaing.
Baca juga:
Ketika Ka’bah berpindah ke hati

Industrialisasi Berawal dari Inovasi
Industrialisasi selalu berkaitan dengan inovasi. Alam menyediakan berbagai sumber daya, tetapi manusialah yang mempelajari, memahami, dan mengembangkan teknologi untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Di sinilah pendidikan memiliki posisi yang sangat penting. Pendidikan tidak cukup hanya dimaknai sebagai proses mengajarkan pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun kemampuan berpikir kritis, memahami persoalan, dan mengembangkan gagasan baru.
Pengetahuan yang dimiliki manusia merupakan akumulasi dari proses panjang. Karena itu, pendidikan seharusnya tidak membuat seseorang sekadar menghafal pengetahuan, tetapi mampu mengambil pengetahuan tersebut untuk dikembangkan menjadi inovasi.
Inovasi kemudian menjadi salah satu kunci agar industri mampu bertahan dan bersaing. Perkembangan teknologi dari revolusi industri hingga era otomatisasi dan kecerdasan buatan menunjukkan bahwa industri terus berubah karena adanya inovasi.
Tanpa inovasi, industri akan berhenti berkembang dan pada akhirnya kehilangan daya saing.
Kampus Tidak Bisa Memisahkan Pendidikan dan Riset
Dalam konteks perguruan tinggi, pendidikan dan riset tidak seharusnya ditempatkan sebagai dua hal yang berjalan sendiri-sendiri. Keduanya merupakan satu kesatuan dalam membangun talenta.
Perguruan tinggi memiliki sumber daya manusia yang terus tumbuh melalui kehadiran mahasiswa. Karena itu, mahasiswa tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai peserta didik, tetapi juga sebagai mitra dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Mahasiswa memiliki energi, gagasan, dan perspektif yang dapat menjadi bagian dari proses penelitian. Melalui keterlibatan tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga memiliki kesempatan untuk menghasilkan produk, mengembangkan teknologi, dan memahami bagaimana pengetahuan dapat diterapkan.
Dengan demikian, ketika lulus, mereka tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga membawa pola pikir bahwa usaha dan industri dapat dibangun berdasarkan pengetahuan.
Hal ini sejalan dengan konsep Tridarma Perguruan Tinggi yang menempatkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai satu kesatuan.
Pengabdian kepada masyarakat juga perlu dipahami secara lebih luas. Pengetahuan yang dikembangkan melalui penelitian harus dapat diterapkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat maupun industri.
Perguruan tinggi dapat menjadi bagian dari ekosistem yang menghubungkan pengetahuan, mahasiswa, riset, masyarakat, dan dunia industri.
Talenta Harus Disiapkan Menghadapi Dunia Global
Tantangan pembangunan manusia tidak berhenti pada bagaimana mencetak lulusan. Indonesia juga perlu membangun ekosistem yang membuat talenta dapat berkembang dan memberikan kontribusi.
Talenta Indonesia tidak hanya berada di dalam negeri. Ada pula diaspora yang saat ini berkembang di berbagai negara. Keberadaan mereka tidak harus dipandang sebagai persoalan antara talenta yang berada di dalam atau di luar negeri.
Yang lebih penting adalah bagaimana membangun kolaborasi.
Talenta Indonesia yang berada di luar negeri dapat menjadi bagian dari jejaring global sekaligus berkontribusi terhadap penguatan ekosistem nasional. Dalam kondisi tertentu, mereka juga dapat kembali dan mengembangkan gagasan maupun usaha di Indonesia.
Karena itu, yang perlu dibangun adalah ekosistem nasional yang memungkinkan talenta memiliki ruang untuk berkembang. Jangan sampai talenta yang kembali justru tidak menemukan ruang untuk mengembangkan kemampuan yang telah mereka miliki.
Dalam persaingan global, negara-negara juga berupaya menarik talenta terbaik. Maka, Indonesia perlu menciptakan lingkungan yang mampu membuat talenta memiliki alasan untuk berkontribusi dan berkembang di dalam negeri.
Indonesia Perlu Terus Belajar dan Berinovasi
Menuju Indonesia Emas 2045 tentu bukan proses yang sederhana. Tantangan datang tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari lingkungan global yang semakin kompetitif.
Karena itu, pembangunan ekosistem pendidikan, riset, teknologi, dan industri harus dilakukan secara terus-menerus. Tidak ada titik ketika sebuah negara dapat mengatakan bahwa proses pengembangannya sudah selesai.
Continuous improvement menjadi penting.
Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran. Setiap individu perlu membangun kebiasaan belajar sepanjang hayat. Belajar tidak berhenti ketika seseorang menyelesaikan pendidikan formal. Pengalaman, lingkungan, dan berbagai persoalan yang dihadapi juga dapat menjadi sumber pembelajaran dan melahirkan gagasan baru.
Bagi mahasiswa, proses tersebut dapat dimulai dengan keseriusan dalam belajar sejak awal. Pengetahuan tidak dapat dibangun dalam semalam. Ia membutuhkan proses, waktu, dan konsistensi.
Sementara bagi masyarakat secara lebih luas, kontribusi dapat dimulai dari bekerja dengan baik, fokus pada hal-hal yang penting, serta terus mengembangkan kemampuan.
Kita perlu melihat tantangan dengan perspektif yang lebih dewasa dan tidak selalu reaktif terhadap setiap persoalan. Energi yang dimiliki akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk membangun sesuatu yang memiliki dampak.
Indonesia memiliki sumber daya alam dan posisi strategis yang menjadi modal penting. Namun, modal tersebut tidak akan cukup tanpa manusia yang mampu mengembangkan pengetahuan dan teknologi.
Karena itu, pendidikan, riset, inovasi, dan industri harus bergerak dalam satu ekosistem. Perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang tumbuhnya talenta dan inovasi.
Pada akhirnya, masa depan Indonesia bukan hanya ditentukan oleh seberapa besar sumber daya yang kita miliki, tetapi oleh seberapa mampu kita mengembangkan manusia yang dapat memberikan nilai tambah terhadap sumber daya tersebut.
Knowledge, innovation, passion, dan daya tahan menjadi bagian penting dari perjalanan itu.
*) Prof. Dr.-Ing. Drs. Setyawan Purnomo Sakti, M.Eng.
Guru besar, dosen, dan peneliti di bidang ilmu instrumentasi dan sensor dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya (UB).













