Kanal24, Malang – Menjadi arsitek profesional tak cukup hanya menguasai kemampuan desain. Lulusan juga dituntut memahami standar profesi, persoalan konstruksi, kebutuhan masyarakat, hingga pengalaman praktik di lapangan. Kebutuhan tersebut menjadi perhatian Universitas Brawijaya (UB) melalui Pendidikan Profesi Arsitek (PPAR) yang dirancang untuk menjembatani pendidikan akademik dengan dunia profesional.
Wakil Rektor I UB Bidang Akademik Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, M.P., Dosen Departemen Arsitektur FTUB Dr. Eng. Ar. Ir. Herry Santosa, ST., MT., IAI, IPM., ASEAN Eng., dan Dekan FTUB Prof. Ir. Hadi Suyono, S.T., M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng., menyampaikan hal tersebut di Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FTUB), Rabu (19/8/2026), dalam rangkaian acara selebrasi lulusan Pendidikan Profesi Arsitek UB.
Baca juga:
FHUB-RUDN University Dorong Kolaborasi Akademik Global
Kurikulum dan Fasilitas Terus Diperkuat
Prof. Imam mengatakan UB terus memastikan proses pendidikan berjalan dengan baik melalui penguatan kurikulum, sumber daya manusia, serta fasilitas pembelajaran. Studio dan laboratorium menjadi bagian penting karena mahasiswa membutuhkan ruang untuk mengembangkan kemampuan akademik sekaligus keterampilan yang relevan dengan profesi arsitek.
Menurutnya, koordinasi antara universitas, fakultas, dan departemen dilakukan untuk memastikan kurikulum selalu mengikuti perkembangan keilmuan dan kebutuhan profesi.
“Secara kurikulum selalu ter-update, ketersediaan sumber daya manusia, fasilitas infrastruktur, studio itu kita pastikan mampu memfasilitasi para mahasiswa untuk belajar dan memperoleh keilmuan skill yang sesuai dengan profesi sebagai arsitek,” ujar Prof. Imam

UB juga mendorong peningkatan kualitas pendidikan melalui perbaikan tata kelola, peningkatan kualitas dosen, penyediaan fasilitas yang lebih baik, serta penguatan jejaring internasional.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan ekosistem pendidikan yang mampu mendukung lulusan untuk bersaing pada tingkat nasional maupun internasional.
Pendidikan Profesi Berlangsung Selama Satu Tahun
Dr. Herry menjelaskan PPAR UB ditempuh selama dua semester atau satu tahun dengan beban 24 SKS. Pendidikan tersebut mencakup pengayaan mata kuliah teori, studio desain arsitektur profesional, serta tugas akhir profesi.
Pembelajaran dirancang agar mahasiswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu menghadapi persoalan yang akan ditemui ketika memasuki dunia praktik.
“Kompetensi yang kita ajarkan itu harus selaras dengan dunia konstruksi di lapangan,” jelas Herry.
Karena itu, metodologi perencanaan dan perancangan yang diberikan kepada mahasiswa juga diselaraskan dengan ketentuan dalam Undang-Undang Jasa Konstruksi maupun Undang-Undang Arsitek.
Setelah menyelesaikan pendidikan profesi, mahasiswa masih perlu menjalani tahapan praktik melalui magang selama dua tahun di biro atau konsultan arsitektur. Selama proses tersebut, mereka mendapat pendampingan dari principal arsitek sebagai mentor sebelum mengikuti uji kompetensi.
Konsep 4+1 Siapkan Lulusan Hadapi Praktik
Dekan FTUB Prof. Hadi Suyono menyebut pendidikan arsitektur di UB dikembangkan melalui konsep 4+1, yakni empat tahun pendidikan sarjana dan dilanjutkan satu tahun pendidikan profesi arsitek.
Menurut Hadi, tahap profesi menjadi bagian penting untuk menyempurnakan pengetahuan, pengalaman, keahlian, serta kemampuan komunikasi lulusan sebelum terjun ke masyarakat.
Salah satu keunggulan PPAR UB, lanjutnya, adalah mahasiswa tidak hanya mempelajari persoalan desain secara teoritis, tetapi juga berhadapan dengan persoalan nyata di masyarakat.
Pengalaman tersebut mencakup perancangan bangunan, persoalan heritage, hingga penyusunan rekomendasi untuk pengembangan kawasan industri dan pariwisata.
“Anak-anak kita ini juga komprehensif, tidak saja di bidang seninya, tetapi juga bagaimana secara teknikal, secara bangunan tetap sesuai dengan standar,” terang Hadi.
Melalui pendidikan tersebut, lulusan diharapkan mampu membawa pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama kuliah ke dunia usaha, industri, maupun masyarakat. UB juga berharap para lulusan dapat terus membangun jejaring serta berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan.
Prof. Imam menegaskan, lulusan PPAR UB diharapkan mampu menjadi arsitek yang aktif, progresif, profesional, dan berintegritas. Karya yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai konseptual, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi pembangunan bangsa.(ffn)













